Selasa, 03 April 2012

_good bye dont cryin'_

good bye dont cryin'....;
sosok cantik itu masih berdiri tepat di hadapan Wira dengan raut wajah yang begitu sedih akan penyesalan sendiri. Sedang Wira hanya bisa terdiam entah apa yang harus dilakukannya. Benar adanya kalau perasaan terhadap Fia masih ada tp itu perlahan hilang, terbang bersama luka-luka serta ketidak percayaaan akan sosok yang terus memandanginya tanpa jeda.
2 musim Fia pernah menjadi bagian dari hari-hari Wira hanya saja Fia yang tak begitu merasa akan hal itu, buatnya Wira tak jauh beda dengan teman yang lain yang meginginkannya. Sampai suatu ketika Wira  merasa tersingkir dan tak berguna lalu memutuskan untuk menjauh yang menurutnya meninggalkannya. Cukup nyata kalau Fia tak begitu mengandalkan Wira yang terus menginginkannya.
Kehadiran sosok baru cukup menyita perhatian Fia. Reno, lelaki yang menurutnya bisa mengiyakan setiap pintanya yang tanpa alasan menggantikan posisi Wira.Wajah Reno memang menarik tak beda dengan Wira hanya Reno memilik gaya hidup mewah yang nyata dari orang tuanya.
Wira merasa tersakiti sekaligus terkhianati tentang wanita yang begitu cantik yang kemarin masih miliknya, tanpa ia sadari ada wajah polos dengan kesederhanaan yang cukup jauh dari Fia tersenyum padanya, senyuman itu selalu dilayangkan berkala buatnya tanpa Wira sadari setiap dia bertatap muka. Wajah polos itu mencoba menarik perhatiannya yang selalu menjadi bayang—bayang dan menjadi bagian dari hari-harinya setelah merelakan semua tentang Fia. Mulai saat itu Wira mencoba memutar balik ingatannya tentang wanita yang cukup ia kenali wajahnya, jelas tak ada maksud hanya niat baik yang dia tunjukkan saat ia mulai tersadar.
Aku memang sayang sama Wira jauh sebelum Fia mengenalnya, hanya saja aku memendamnya dalam hati, buatnya tak ada alasan untuk mengenali Wira lebih jauh, cukup nama dan wajahnya saja, yang menurutku tak mungkin memiliki fisik indahnya. Tapi waktu terlihat berpihak padaq, semua berjalan tanpa rencana bisa dikata kalau Wira selalu menjadikanku sebagai tempat berbagi atau apalah yang membutnya nyaman entah buatnya merenung lalu tersenyum kemudian tertawa. Banyak waktu yang kulalui bersama Wira meski masih separuh waktu dari Fia saat masih menjadi miliknya.
Wir, adakah kesempatan itu lagi..??” pinta Fia memohon dengan menggenggam tangan Wira
Wira masih terdiam, sejenak di tatapnya wajah Fia yang begitu penuh pengharapan, begitupun bola matanya yang meyakinkan ketulusannya. Wira tak pernah membayangkan sosok yang begitu cantik memohon akan cintanya. Ingin sekali Wira meredakan rasa sedihnya dan menghilangkan rasa sesalnya, hanya saja wajah Reezna sekilas terlihat dalam ingatannya yang membuatnya tak yakin akan permintaan Fia.
“Fi, dulu aku begitu menginginkanmu, begitu tertarik akan kecantikanmu, tapi aku sadar saat denganmu tak ada rasa yang kau tunjukkan sekalipun, menurutmu aku tak jauh beda dengan teman yang lainnya. Kamu tahu rasanya seperti apa, apa perlu aku gambarkan perasaanku saat itu. Tapi percuma wanita sepertimu tak kan pernah tahu soal perasaan..!!” jelas Wira perlahan melepaskan genggamanya dari Fia
“Wir, aku butuh kamu..!” ucap Fia lirih dengan air mata
“butuh,, sejak kapan Fi kamu butuh aku..!?” tanya Wira sedikit tersenyum dengan hati yang cukup sakit
“tapi Wir aku……….”
Belum sempat Fia melanjutkan pintanya Wira mencoba memotong pembicaraanya yang menurutnya tak akan merubah hatinya. Wira mencoba menjelaskan inginnya tanpa harus melukai hatinya, hati yang dulu dimilikinya yang kini tergantikan.
tp Wir, itu engga adil..!?” ucap Fia masih dengan air matanya         
beberapa waktu lalu aku juga pernah merasakan hal yang serupa, bahkan lebih darimu” Wira mencoba menenangkan Fia lalu sedikit melangkah darinya.
Semua nampak jelas sejelas pernyataan Wira selama bersamanya seperti terlihat secara kasat mata tentang sikapnya selama ini. Fia menyeka air matanya seakan menyadari yang telah lalu. Selangkah dia mencoba mendekati Wira dengan tenang meski hatinya tak serupa yang terlihat.
Wir, apa ada yang menggantikan posisiku..??” tanya Fia lembut
Wira tampak tak tenang dengan pertanyaan itu, sesekali dia menunduk tak jarang juga dia memalingkan wajahnya ke arah yang tak jelas seperti tak berani memandang wajah Fia
Wir..!!” ucap Fia masih dengan nada lembut dengan mengerutkan kedua keningnya
“apa perlu aku jawab..!?” tanya Wira
Fia mencoba tersenyum simpul yang sangat berbanding terbalik dengan perasaanya saat itu, meski ia tahu kalau tak ada harapan lagi buatnya. Wira terlihat bingung, ingin sekali dia tak menyakiti hatinya tapi pertanyaan Fia butuh kejelasan, meski hanya pernyataan singkat yang cukup tak adil buatnya.
Wira mencoba menghela nafas tapi tak ingin terlihat oleh Fia,, dari awal Wira tak pernah tega menyakiti hatinya, tapi kali ini mungkin sikap Wira bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Wir, dari tadi,, uuppsss sorry..!” seakan ku tarik ucapanku saat melihat mereka lagi ngobrol
“kenapa Reez..??” tanya Wira senyum kaget
aah engga jadi..!” jawabku kaku seperti mataku yang melihat mereka
Fia terdiam tak mau melihatku apa lagi menggubrisku, dia hanya sibuk memainkan ujung rambutnya dengan jari-jarinya, sesekali mengibas rambut hitamnya yang panjang dan lurus yang menurutnya indah, bukan masalah buatku, begitupun dengan Wira. Perlahan kulangkahkan kakiku berniat tak mengganggunya, tapi Wira tak pernah melepaskan pandangannya dariku. Jelas terlihat oleh Fia yang sangat membuatnya berang yang nyata di wajahnya.
mau kemana..??” tanya Wira menghampiriku
Kucoba cari alasan, yang pasti wajah kakuku tak terlihat olehnya, Wira mencoba mencegahku, mungkin buatnya saat yang tepat akan pertanyaan Fia
aku pergi dulu yach..!” ucapku pelan seraya kupalingkan wajahku bergegas meninggalkan mereka
“reez, tunggu..!” spontan Wira memanggilku
Aku terdiam dari langkahku, ingin sekali aku mambalikkan badanku tapi tak ingin melihat wajah Fia yang begitu menyudutkanku begitupun wajah Wira yang terlihat serba salah.
”Wir kamu belum jawab pertanyaanku..!?” teriak Fia berjalan mendekatinya
Wira menhampiriku lalu sesaat berhenti tepat di sampingku
“Reez, kamu jangan ninggalin aku yach..??” bisik Wira pelan ke arahku
Tak banyak yang bisa kulakukan selain terdiam, ingin ku iyakan pintanya tapi gambaran Fia seakan menggerogotiku dengan terror dari belakang, berkali-kali kuhela panjang nafasku bukan takut tapi berharap sesuatu yang tak mungkin tentang Wira
“Wir, kamu…!!” belum sempat Fia berucap yang terus mencoba mendekatinya, Wira menggenggam tanganku erat seakan takut aku pergi tanpanya
“Fi, aku minta maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu dengan kata yang mungkin tak ingin kau dengar tapi mungkin kamu bisa mengerti. Aku masih Wira yang dulu tapi tidak dengan perasaanku..!”
Ucapan Wira cukup menyakitkan hati Fia yang tak bisa berbuat apa-apa sampai berkatapun tak mampu. Kulangkahkan kakiku dengan penuh senyuman dalam hati lalu berbisik kalau Wira memiliki hati yang begitu baik tak hanya wajah dan fisiknya saja. Begitupun dengan Wira yang tersenyum penuh harap sesekali melepaskan genggaman tangannya hanya untuk memegang kepalaku.
                                                                                                                                                                
                                                                                                                                                                  full luv treeznacarter

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar