Selasa, 03 April 2012

_we r different_


we r different.....;
“ msh nge_net trus..?!” tanya sang kakak yang suaranya tiba-tiba mengagetkanku dari balik pintu
iyya, lagi dead line neeh..!!” jawabku dengan memainkan jari-jariku di atas keypad
“kaya wartawan aja..!! senyumnya samar yang masih dari balik pintu
“he’em emergency neeh, besok pagi dah harus terbit..!!”
“jam berapa…?!” tanyanya nyegir
“pokokoknya sebelum matahari terbit..!!” jawabku terdengar serius
“dasar anak g jelas..!!” timpanya dengan tawa yang aneh
Kata tidak jelas itu sudah jadi nyanyian di kupingku setiap dia melihatku dengan kesibukan yang menurutnya mungkin tidak jelas juga, yang hampir setiap saat waktuku kuhabiskan dalam kamar dengan laptop yang sama sekali jarang terlihat off, entah apa yang aku lakukan yang pasti tidak membuat mata dan otakku bosan.
“masih ngenet…?!” tanyanya masih dengan gaya yang sama
“ada apa lagi, perasaan baru 10 menit dech..!?” jawabku kesal lalu mengahampirinya
“yeewwwhhh matanya dah merah, msih juga dipaksain, tuch ada telpon dari Fikha” ucapnya ketus
Wajahku sedikit datar menuju ruang keluarga yang jaraknya tak jauh dari kamarku
“halo sista, kenapa” tanyaku lembut
“dari tadi aku hubungin tapi ponsel kamu engga aktif-aktif..!?”
“sorry, lagi di charge..!”
“besok jam satu siang ketemu di tempat biasa..!!”
“ngapain..??” tanyaku aneh dengan mengerutkan dahi
“besok aja di bahas..!!” pesannya singkat
Tak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat itu yang aku rasa ada sesuatu yang tak jelas tak seperti biasanya.
Pukul 01.07 siang aku sudah duduk di tempat yang Fikha janjikan tapi tidak dengannya yang mungkin sedikit  telat. 20 menit berlalu aku hanya terdiam tapi tidak dengan jari-jariku yang sedari tadi sibuk ngutak-ngatik ponsel mulai dari browsing ampe YMan…!!
sorry sist telat, tadi di jalan macet” kata pertama yang dia ucapkan dengan wajah sedikit merasa bersalah lalu menarik kursi yang ada di depanku
“santai aja sist..!!”
“tumben ngajak ketemu di luar, biasanya sista datang sendiri ke rumah..??” tanyaku polos
“engga apa-apa, cuma mau ngobrol aja, kangen..!!” jawabnya senyum yang sudah jadi ciri khasnya
kangen,, kaya’ seminggu aja baru ketemu..!!” senyumku dengan sedikit aneh
“oh yach gimana kabar Iraz..!!” tanyanya singkat
“baik..!!” jawabku tapi tidak dengan otakku yang mungkin sedikit aneh karena pertanyaannya
“ada apa sist, koq liatnya kaya githu..??”
“aakhh engga apa-apa” jawabku sambil sedikit memalingkan muka
“sist, aku kesini mau ngobrol banyak, jadi engga usah basa-basi..!!
“sist, ada apa seeh,, aneh..!!” tanyaku sedikit kesal
“kamu sist yang aneh, kenapa harus Iraz yang cerita ke aku..!!
“ooowwwhhh jadi udah tahu..!?” tanyaku dengan nada rendah
“cmon sist, tell me whts goin’ on..?!” tanyanya penasaran
“bingung aku ceritanya sist..!!”
Fikha sejenak terdiam mentap mataku yang mulai sedikit berkaca
“sudah 4 tahun kan sista..??” tanyanya dengan suara lembut
Kuanggukkan kepala membenarkan ucapannya
“ok.., aku bukan cuma ngerti tapi q juga bisa ngerasain perasaan kamu sist..!!” ucapnya lagi dengan suara yang sama seakan ingin memelukku
“sist, engga ada alasan lagi buatku bertahan, dan aku engga punya alasan lagi buat nahan Iraz..!!” kumulai cerita pada Fikha, dari awalnya dia hanya terdiam tak lain bermaksud menunggu aku bercerita sampai selesai tanpa harus memotong pembicaraanku
“engga bisa kupungkiri kalau aku engga bisa merelakannya, sakit sist, sangat sakit, secara apa yang dilakukan selama ini padaku..!!” Fikha masih terdiam begitupun duduknya yang tak pernah beranjak.
“apa karena alasan itu sist..??” tanyanya
“iyya”
“apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu..??”
“iyya..!!” jawabku terdengar ragu
“dari awal aku sudah bilang sist, tapi aku juga engga mungkin ngalangin perasaan kamu..!!
“kenapa sist..??” tanyaku dengan air mata yang tak tertahan lagi
“begitulah cinta sist, kalau sudah berpihak, logika kadang terabaikan..!!”
“tapi…??”
“denger aku sist, bukan aku engga suka, tapi kalau boleh jujur aku engga yakin dengan kalian berdua..!!”
“kenapa..?!” tanyaku seakan memaksanya
Fikha diam seakan ikut larut dalam kesedihanku, dan tetap saja terdiam seakan tak sanggup menjelaskan ucapannya , tapi aku tahu maksudnya, akupun terdiam entah apa yang aku liat diskitarku.
“sista yang sabar yach..!!” ucapnya dengan memegang ke dua tanganku
Ku coba terus terdiam tapi hati terus menggeliat seakan memaksaku tuk berontak, wajahku menunduk menatap hampa entah apa yang jelas dalam benakku, tapi semua nampak samar karena mataku terus berkaca.
“aku selalu berdoa, bukan hanya saat aku selesai bersujud yang selalu jadi kebiasaanku di setiap waktu, dalam doaku selalu kupanjatkan setiap pinta dan asaku  pada TUHAN,  kujelaskan juga tentang diriku dan dirinya, aku hanya menerka-nerka, dengan aku bercerita TUHANpun akan tersnyum mendengarnya meski aku dan dia menyembahnya dengan cara yang berbeda..!!” ucapku dengan menekan nada suaraku tapi tidak dengan air mataku yang terus mengalir
kamu engga salah sist, begitupun dengan Iraz, hanya saja kalian berbeda, beda keyakinan, cara beribadah, begitupun yang kalian sembah, semua nampak jelas, begitupun tujuan hidup kalian, semua berbeda. Kamu tahu kan sist setiap ciptaan TUHAN menginginkan yang seimbang dan saling melengkapi..!!” jelas Fikha dengan kata-kata yang jelas tanpa jeda yang membuat aku tak bisa menahan air mataku, hatiku sakit teriris
Kepalaku masih tertunduk entah seperti apa tatapan Fikha terhadapku
“seburuk itukah aku yang di anggap melanggar norma agama, sampai aku menyerah pada hukum agama karena semua menganggapku salah. Ingin sekali kuteriakkan pada mereka bahwa aku bukanlah pendosa, ingin juga kujelaskan bahwa aku dan dia tak begitu hina yang terpikir oleh mereka. Aku hanya menjadi diri sendiri tapi kenapa cinta kita dianggap sampah oleh mereka yang memandang kami, salahkah cinta yang menyatukan kami dengan perannya  yang seharusnya. Aku juga termasuk mahluk kecintaan Tuhan seperti yang lainnya, aku juga tak pernah melanggar asusila, tidak tahukah mereka kalau sekalipun dia menyentuhku tak pernah selain menjabat tanganku, tak tahukah mereka tentang tutur katanya yang begitu lembut dan terjaga, tak tahukah mereka seperti apa dia memandang wanita yang begitu berharga, baginya menyayangiku seperti ibunya dan menjagaku seprti adik wanitanya, trus  kenapa kami masih begitu terlihat tolol oleh mereka..??” sontak kata-kata itu spontan terlepas dari bibirku yang merasa tak pantas akan hujatan mereka.
“sudahlah sist jangan ditangisi, kenyataan memang seperti ini, tanpa logika perasaan akan membuatmu jatuh terpuruk..!!”
Aku berusaha menahan air mataku meski kadang tak sanggup, kucoba tersenyum simpul tapi tidak hatiku, jelas aku belum bisa menahan rasa sakitku tentang Iraz, tentangnya yang begitu istimewa, seakan aku tak punya alasan untuk membencinya seperti aku yang tak punya alasan untuk meninggalkannya, semua indah saat bersamanya seperti tak ada celah sediktpun, dia begitu hebat, hebat dalam segala hal meski usianya lebih muda dariku, dia sosok yang dewasa dan cukup bijak. Buatnya aku adalah masa depannya yang selalu buatnya bertahan untuk menunggu, semua mimpi indahnya telah ia ciptakan untuk dijadikan kenyataan saat aku dan dia bersama. Banyak, sangat banyak harapan dan mimpi kita yang selalu menjadikannya sebuah doa.
Air mataku tak bisa mengelak, semua menetes secepat arus. Ingin sekali aku bercerita tentangnya pada Fikha, sehebat apa Iraz tapi semakin aku mengingatnya tak banyak yang bisa terucap selain air mata.
“sudahlah sist, aku engga bisa liat kamu seperti ini..?!”
“aku belum yakin dengan semua ini, kenapa harus aku..!?
Aku terus menjelaskan sedikit tentang Iraz, tentangnya yang begitu penyayang. Kujabarkan 1 per 1 seperti apa aku mengenalnya. Kurangkai kata agar terdengar sempurna, sesempurna tulusnya padaku. Fikha menatapku tajam dan menyentuh ke dua pipiku dengan tangannya yang lembut seraya menyeka air mataku yang menetes dan terus menetes.
                Dengan berdirinya Iraz di depanku begitu sangat mengagetkanku bak shock terapi yang akut.
                “aku mengajak Iraz juga, biar masalahnya clear, karena bagi Iraz itu hanya alasan sepihak darimu..!!” pernyataan Fikha membuat jantungku tak hanya akut karena kaget tapi juga menjadi kronis. Betapa tak berdayanya aku di depan Iraz yang terus menatapku tanpa suara.
                “gimana raz, apa masih kurang jelas..??” tanya Fikha ke Iraz
                “cukup” jawabnya singkat yang mungkin menjawab semua alasan aku meninggalkannya
Kuberanjak mendekati Iraz yang masih menatapku tanpa suara, tak ada gerak dari tubuhnya sedikitpun tapi matanya begitu berbicara tentangku. Perlahan kumeraih tangannya, tangannya yang terbiasa menjagaku.
 “dosakah aku bb [beib], salahkah aku bb, aku hanya menyayangimu, aku hanya ingin mendampingimu..!! kukatakan pada Iraz yang perlahan memeluk tubuhku untuk pertama kalinya
Iraz tak mampu menjawab tanyaku. Detak jantungnya begitu cepat terdengar ditelingaku tanpa irama saat kepalaku bersandar di dadanya yang cukup bidang buatku, tubuhku begitu hangat sehangat darahku yang mengalir dari arteri sampai vena.
“bb, tolong jawab aku..!?” pintaku manja
“bb, pilihanmu tak salah, tak ada yang salah, begitupun mereka meski mereka tak bisa menghakimi kita, karena mereka tak tahu tentang kita, tapi mereka melakukan yang menurutnya benar, yang pasti terbaik buat bb..!! jawabnya lembut
“bagaimana dengan bb..??”tanyaku menarik bajunya yang tersentuh olehku
“entahlah..!!” jawabnya masih memelukku erat
Air mataku terus dan terus mengalir tanpa henti, kutarik bajunya perlahan kutepuk dadanya yang jantungnya masih berdetak kencang tanpa irama. Ada setetes air yang jatuh di ujung lenganku. Kupandangi wajahnya yang tenang, pipinya beruarai air mata. Kali pertama aku melihatnya seperti itu.
Fikha menyaksikan kisahku. Sedikit tersenyum tapi tak bisa menutupi air matanya yang juga menetes. Entah apa yang ada dibenaknya.
“ bb, apa dunia sedang memainkan perannya..??” tanyaku sdikit mengisak air mataku yang masih menetes
“iyya..!!”
“bb, apa aku memang tak pantas buat bb..?!”
“bukan bb tapi kenyataan yang menganggap kita tak pantas buatnya..!!”
Tak sekejap pun Iraz melepaskan pelukannya, air matanya masih sedikit menetes. Langit seketika menjadi gelap tapi belum bisa menyamai hatiku saat itu. Udara dingin menghampiriku memasuki setiap rongga dan celah kulitku, seakan bertiup melalui pori-pori tapi tak bisa menembus darahku yang terus hangat karena Iraz.
Iraz menghela nafasnya yang panjang lalu melepas pelukannya dariku.
“bb masih percaya sama aku..??” tanyanya dengan memegang lembut ke dua pipiku
“iyya..!!” jawabku pelan dengan tetesan air mata
“tak ada yang bisa dilakukan lagi. Semua tak percuma hanya saja takdir telah melakukan tugasnya dengan sempurna.!!”
Tak bisa kuberucap, bernafaspun seakan tak mampu tapi aku terus menatap tajam matanya yang tak pernah teralihkan dariku
 “kenapa perbedaan itu begitu asing buat kita, kenapa cinta tak bisa menyatukannya, bukankah cinta berperan sebagai penyatu apa pun..??” tanyaku yang merasa tak adil dengan semuanya
“iyya..!!”
“tp kenapa cinta tak melakukan tugasnya..??”
“dilakukan bb..!!”
“tapi kenapa dengan memisahkan kita..??”
“bb pernah bilang kalau cinta terkalahkan oleh logika, awalnya aku ragu, terus bb bilang lagi sedang logika terkalahkan oleh iman, aku baru sadar kalau ucapan bb begitu terdengar sempurna, sesempurna kisah kita yang menggantungkan kesedihan..!!” ucapnya menjabarkan pernyataanku saat bahagia masih berpihak pada kita
Kupandangi wajahnya dengan mata yang memerah karena air mata yang seakan penuh pertanyaan tanpa ujung
 “bb, jangan kamu menangis lagi, bukankah banyak bahagia yang kita lewati bersama meski tak jarang aku buatmu bersedih, bb tolong jangan kamu menangis lagi, kisah kita bukan romeo dan juliet lagi..!!” diucapnya perlahan dengan mata berkaca
Kuanggukkan kepalaku perlahan. Angin kencang hanya bisa berlalu dariku yang masih tak mampu mengeringkan air mataku dan menenangkan hatiku.
“bb, relakan aku pergi yach, tapi kalau nanti kita bisa bersama lagi tolong bb jangan pernah lepaskan aku lagi..!!” ucapnya seakan berbisik ditelingaku berharap aku mengiyakan pintanya
Sangat tak bisa kugambarkan hatiku saat itu, ragaku terasa hancur berantakan, air mataku laksana hujan, dengan petir adalah isak tangisku, seakan aku murka dengan keputusanku sendiri. Sungguh hebat sehebat senyumnya yang begitu merapuhkan pandanganku akan sosoknya..!!

 full luv treeznacarter

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar