Selasa, 04 Desember 2012

_take me to the star_

Lima tahun berlalu setelah empat tahun melepas hubungan tanpa pertemuan setelahnya. Jelas sukar menggambarkan wajahnya seperti apa sekarang karena perubahan itu pasti. Hanya sekali bertemu dalam empat tahun itu. Sesekali mencari wajahnya dalam ingatan yang menurutku sudah berbeda karena waktu. Sungguh diluar logika bagaimana mempertahankan kisah seperti itu. Tak pernah jadi masalah karena semua berdasar kepercayaan dengan menganggap kita seperti sudah tertakdir. Awal terpisah, komunikasi tetap berjalan dan kadang masih merasa kalau kita terikat seperti sebelumnya. Meski hanya melalui benda mati yang bernama ponsel yang hanya kuijinkan mendengar suaraku melalui lempengan-lempengan besi tanpa gambar yang bergerak. Jejaring sosial pun seperti tak menjalankan fungsinya tentang aku dengannya. Padahal di zaman teknologi ini menjanjikan banyak fasilitas untuk bertatap muka. Bukan itu yang menjadi pikiranku kala itu tapi alasan yang kuat kenapa hanya suaraku yang terdengar.
Empat tahun lalu komunikasi itu terputus. Dan tujuh tahun lalu terakhir aku melihatnya. aku memilih diam dalam harapan tentang rasaku yang tak berkesudahan.
Long distance relationship, seperti itu kata mereka tapi mereka tak pernah tahu seperti apa kisahku dengannya, seperti apa juga aku terpisah olehnya. Biyan, sekarang usianya genap 27 tahun. Pasti sudah mapan dengan pekerjaan yang dimilikinya yang sedari dulu diimpikan. Tak bisa kupungkiri kalau aku masih merindukannya seperti aku banyak berharap menemuinya.
Waktunya pun tiba. Tiket pesawat sudah terbeli yang harusnya ini kulakukan setelah dia menemuiku. Semua tak bisa berjalan sesuai keinginan. Aku hanya terus berencana meski aku harus kehabisan air mata bahkan sampai berlutut seperti melepas status dihadapan ayah sendiri yang tak pernah memberi restu sejak awal. Tak pernah aku membayangkan kalau pengorbanan rasanya seperti apa. Ratusan mil kulalui hanya untuknya. Kali ini aku fahami seperti apa Biyan menemuiku dulu.
Semua telah kuatur sedetail mungkin. Rendy yang menjadi media penghubung aku tentang Biyan. Rendy yang akan menjalankan skenario dariku. Aku tak punya niat jahat hanya meminta bantuan yang Rendy sendiri menawarkan jasanya. Rendy sahabat Biyan dan Rendy juga telah menggenggam kisahku seperti apa aku dengan Biyan.
“rend, sekarang aku dah tiba di bandara. Kamu dimana..??” tanyaku melalui ponsel
“aku dah nunggu kamu 15 menit lalu di sini..!!” balasnya dengan nada senyum
Kulihat Rendy melambaikan tangan setelah aku memberi tanda. Tak banyak cerita aku dan Rendy. Mungkin karena aku sedikit lelah dan Rendy cukup peka hal itu. Rendy mengantarkan aku ke tempat yang sudah ditentukan. Kamar yang menurutku cukup untuk aku tinggal sendiri.
Malam membawaku kesuatu tempat dimana telah dijanjikan oleh Rendy untuk memulai cerita.  Bukan hanya itu Rendy seolah menjadi guide buatku. Dengan menjelaskan berbagai tempat yang tak pernah kukunjungi sama sekali.
Empat hari aku baru memberanikan diri menemui Biyan. Seperti sebelumnya Rendy menjadi penghubung yang menurutku membuka jalan untuk aku dan Biyan
Suatu siang ketika Rendy membawaku menemui Biyan di sebuah tempat yang cukup menenangkan pandanganku. Sungguh hari yang kunantikan sekaligus buatku tak tenang. Benar aku tak mengenali wajahnya kecuali sedikit senyum yang dulu ia berikan padaku kali pertama bertemu.
                “uuppssss, sorry telat dikit, tadi jemput teman dulu..!!” jelas Rendy kepada Biyan sambil mempersilahkanku duduk
“ engga apa-apa..!!” jawabnya senyum
“oh ya kenalin, ni temanku..!!”
“hay, aku Letiyza..” ucapku senyum menyodorkan tangan sambil memandang penuh wajahnya
 “Biyan..!!” ucapnya singkat dengan membalas senyumku
Kubiarkn Rendy mengobrol lama dengannya termasuk kedatanganku. Hanya sesekali aku masuk dalam pembicaraannya. Sedikit demi sedikit kunikmati wajah Biyan yang menurutku sama sekali tak mengenaliku. Kemeja coklat yang pas dibadan menjadikan wajahnya yang putih terlihat manis Tapi tidak dengan suaraku. Hampir setiap kata yang kuucapkan begitu buatnya terdiam seakan mencari dari mana asalnya.
Sejam berlalu begitu saja tiba-tiba ponsel Biyan bordering. Entah apa yang dibahasnya. Sepertinya dia berbicara dengan rekan kerjanya.
“sorry niih, aku engga bisa lama-lama. Ada telepon dari kantor..!!” ucapnya senyum kebingungan
“oowwhh engga pa-pa, dah waktunya juga kamu masuk..!!” jawab Rendy
Aku tersenyum membenarkan kata Rendy. Melihat Biyan bergegas meninggalkan meja membuatku tersenyum simpul.
“Letizya, nama yang bagus buatmu treez..!!” ucapan Rendy mengagetkanku
“iyya, nama yang menurutku sempurna kedepannya..!!”
Rendy sedikit tersenyum kebingungan dengan mengangkat kedua alisnya lalu mengantarku pulang sebelum dia ke kantor.
“Rend, makasih yach dah bantu, tentang aku dan Biyan biar aku sendiri yang ngomong..!!”
“yakin..??”
“harus yakin..!!” jawabku sedikit semangat
“iyya, tapi kalo kamu butuh bantuan, hubungi aku..!!”
Aku tersenyum ikhlas kearah Rendy dalam hati aku berucap syukur terima kasih buat hari ini.
Hari ketujuh aku di kota Biyan. Aku memberanikan diri datang ke tempat kemarin dimana aku bertemu dengannya. Sore perlahan membawaku kesana. Aku suka danau kecil itu. Bisa buatku tenang dan berpikir tentangnya. Kunikmati udara serta angin kecil yang sedikit meniup rambutku
“hai Letiyza, engga nyangka ketemu disini, sendirian, Rendy mana..??”
Tiba-tiba suara Biyan mengagetkanku dengan penuh pertanyaan yang berdiri tepat di hadapanku
“hai Biy, iyya sendiri aja, Rendy engga tahu mungkin masih di kantor..!!” jawabku kaku
Seketika itu aku mulai sedikit akrab dengannya dengan membiarkannya duduk tepat disampingku. Sebelum Biyan bertanya banyak tentang Rendy aku berusaha tenang menjelaskan keberadaanku di kota ini dan hubunganku dengannya. Seperti tak ada masalah buat Biyan karena dia tak tahu yang sebenarnya.
“Letiyza kamu….!?”
                “panggil aku Tiyza..!!”
                “Tiyza, nama yang lucu.., oh yach kamu kesini ngapain..??” sambil mengerutkan dahinya seprti terlihat memikirkan sesuatu
“engga ngapa-ngapain, seneng aja disini, kamu sendiri..??”
               “bertahun-tahun aku memang sering kesini. Bisa dibilang tempat ini jadi saksi buatku sekaligus pendengar yang baik kalau aku lagi senang, sedih, galau atau apalah sejenisnya. Meski tak pernah bisa jawab tanyaku tapi aku menikmatinya..!!” jelas Biyan sedikit tersenyum
                Hanya berbincang hal biasa waktu tak terasa berlalu. Senyumnya membuyarkan fantasiku yang sedkit berimajinasi tentangnya seperti beberapa tahun silam.
 “oh yach dah magrib, pulang yuk..!?” ajak Biyan
“iyya,,!!”
“pulangnya naik apa..??”
“jalan kaki, tempat tinggalku deket koq dari sini, engga cukup 100meter..!!” jawabku senyum
“engga pa-pa biar aku antar, dah magrib juga niih..!!”
Kubiarkan Biyan mengantarku pulang dengan motornya. Tak ada yang bisa terucap selain menunjukkan arah tempat tinggalku.
“oowwhhhh ngekos di sini..??” Tanya Biyan
“yeach seperti itulah..!!” jawabku
“ya dah aku balik yach..!!”
“makasih ya Biy..!!”
“iyya..!!” jawabnya singkat, sesingkat senyumnya
Kupandangi terus sosoknya yang perlahan menjauh sampai deru motornya tak terdengar. Tak tahu seperti apa benakku selain senyuman yang tak jelas di wajahku.
Malam mengajakku berpikir tentang Biyan dan danau kecil itu. Aku harus ketempat itu lagi. Tempat itu seperti jadi petunjuk buatku. Kucoba hubungi Rendy, menceritakan semua yang terjadi. Rendy tersenyum. Hanya sekali dia merespondku.
“treez, apa yang kamu mau, akan kamu dapatkan di sana..!!”
Seperti itu kata Rendy sebelum menutup telpon dariku. Sejenak keningku mengerut yang tak mengerti maksud ucapannya.
Dua hari setelahnya. Aku coba ke danau kecil itu lagi. Hampir sejam aku menunggu kedatangannya. Dan bayangannyapun tak nampak. Wajahku terlihat sedikit tanpa senyum. Menunggu hal yang tak terjanjikan, aku berusaha tenang duduk manis di bangku itu meski tak setenang wajahku.
Kucoba mencari sosoknya dengan memainkan bola mataku sampai kearah yang tak bisa kujangkau. Karena kecewa, aku meninggalkan tempat itu. Baru beberapa meter aku beranjak dari bangku. dari jauh kulihat Biyan berdiri sendiri, tak jelas apa yang dilakukannya. Yang kulihat tatapan matanya kosong.
Aku melangkah mendekatinya. Berjalan lambat hanya tak mau merusak pikirannya. Sedikit kaget melihatku dan mataku menatapnya bingung.
“hay Biy, sudah lama di sini..?!” tanyaku pelan
“hay, mmmm sorry tiyza, aku harus pulang..!!”
Spontan Biyan membalikan badannya lalu melangkah menjauhiku.
“nunggu seseorang..!?” tanyaku lagi
Biyan seperti tak menggubris tanyaku. Hanya tersenyum lalu berjalan dan menayakanku hal yang tak penting.
“mau di antar pulang..?!”
“engga usah, aku masih mau disini..!!”
“kenapa kamu sering kesini..?!”  tiba-tiba tanyanya terdengar sedikit kesall
“seneng aja..!!” jawabku sedikit kaget sambil memainkan tali tasku
“jujur, aku sedikit engga suka melihat kamu sering duduk di bangku itu..!!”
“kenapa, kan untuk umum..??” Tanyaku bingung menatap wajahnya yang tanpa senyum
Biyan lagi-lagi tak menggubrisku. Dia pergi begitu saja. Hatiku kesal. Wajahku berubah jadi tak menarik yang tadinya senyum setelah melihatnya kini berubah drastis.
Sesampainya di rumah. Aku seperti kesal sendiri. Jelas wajahku terlihat gelisah dan juga sedikit takut tentang Biyan. Ingin sekali kuceritakan pada Rendy. Tapi tak ingin menyibukkan Rendy terlalu lama tentang kisahku. Kucari cara sendiri seperti apa sikapku ke Biyan. Aku tak mau terlalu berlama-lama menjelaskan siapa diriku dan tujuanku ke sini.
Hari ini aku datang lebih awal ke tempat itu. Biar aku bisa merenung dan mencari kata-kata yang tepat untuk Biyan. Sungguh aku menikmati udaranya yang sejuk. Angin kecil seperti membisikkanku kalimat yang tak jelas. aku tersenyum kecil meski sesekali wajah Biyan terlihat jelas di otakku.
Syaraf dan motorikku bekerja dengan sempurna. Seakan jantungku terdengar memompa darahku yang mengalir hangat. Lagi-lagi Biyan memamerkan wajahnya yang tak lagi bersahabat. Tapi kali ini nyata bukan fantasy dalam otak dan perasaanku. Wajahku seketika memerah.
                “sudah berapa lama kamu duduknya..!!” Tanyanya datar
                “lumayan..!!” jawabku dengan nada yang sama
                “siapa yang kamu tunggu..?!”
                “seseorang yang angkuh yang tadinya baik kini berubah jadi pemarah..!!” sindirku
                “sorry soal itu..!!”
Biyan mulai bercerita sedikit demi sedikit. Perlahan tentang pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari, Kini kucoba cari tahu tentang kehidupan pribadinya. Memberikan berbagai pertanyaan yang cukup halus biar tak jelas maksudku. Biyan menjawab seadanya. Seperti yang diceritakan Rendy padaku sebelumnya. Biyan juga menjelaskan tentang wanitanya yang takut ketinggian, pencita fireworks, penikmat bintang, penggalau malam. Biyan juga menjelaskan kenapa dia memilih danau kecil ini. Itu karena wanita yang disayanginya takut dengan pantai laut atau sejenisnya. Biyan begitu jujur tapi sejenak dia berhenti ketika dia mulai membahas lebih jauh tentang wanita yang sangat ia sayangi. Hatiku miris mendengarnya. Betapa Biyan merindukanku. Betapa tersiksanya dia menungguku. Ingin sekali kuteriakkan kalau ini aku. Wanitanya yang selalu dirindukan.
Kutahan air mataku. Tak kubiarkan setitikpun tumpah, karena aku belum siap. Belum siap akan reaksinya yang menurutku akan menjauhi sekaligus membenciku. Dan sekarang aku tahu kenapa Rendy mencarikanku tempat tinggal yang dekat danau kecil itu.
Malam pukul 10 lebih secara organik tubuhku harusnya sudah menjadi rileks. Organ-organ penting dalam tubuhku seperti pangkreas, lever dan ginjal harusnya  terjadwal untuk beristirahat. Nada panggilan dari ponsel mengagetkanku yang tiba-tiba terbangun dari tidurku. Entah apa yang terpikir setelah mendengarnya. Persepsi dan emosiku menyatu.
                “besok jam 2 siang Biyan nunggu kamu di tempat biasa..!!” suara Rendy mengagetkanku tanpa kata pengantar sebelumnya
“maksudnya..??” tanyaku terkejut seakan meniup kencang kuping Rendy
                “iyya tenang dulu, tadi Biyan nelpon, nanyain nomor kamu, tapi aku bilang sekarang aku engga di rumah, ponselku yang satu tertinggal. Pokoknya aku nyari alasan biar Biyan engga tahu nomor kamu. Pasti runyam kan. Makanya Biyan titip pesan buat kamu..!!” jelas Rendy
                “syukurlah. Thanx yeach Rend, kamu memang yang terbaik..!!” ucapku senyum
                “terbaik apa dulu..?!” balasnya sama
                “hahahaha, jadi teman lah..!!” candaku
                “dasar..!!”
                “mang kamu ngapain ekarang..??” Tanya Rendy
                “tidur..!!”
                “ ya dah tidur aja, engga usah mikir tentang Biyan dulu. Alfa, Beta, Teta kamu butuh istirahat..!!”
                “iyya-iyya, kamu bisa aja..!!”
Benar kata Rendy tak kubiarkan kumpulan logikaku menganalisis pesan Biyan yang akan membuatku tak tidur hanya karena berteka-teki sendiri. Pikiranku harus kukelola dengan sedemikian baik mengingat fugsinya yang sangat vital hanya untuk menjaga dan mendampingi perasaanku yang sekarang tak tentu.
Pagi membangunkanku berharap harapanku cerah secerah mentari. Pesan itu membuatku menunggu. Menunggu waktu untuk menemuinya. Namun setelah terbangun kulakukan banyak aktivitas yang positif agar ingatanku tak teralihkan tentang Biyan. Kuputuskan untuk menemuinya tanpa persepsi penuh atau anggapan sendiri di kepala. Apa yang terjadi setelahnya mungkin itu menjadi takdirku sendiri.
“hai Biy, dah lama..??” tanyaku melempar senyum ke arahnya
“engga..!!”
“katanya menungguku, ada apa..!?” tanyaku lembut
Seperti itulah Biyan, jawaban akan terasa singkat jika pikirannya sedang kalut atau bahkan hanya terjawab dengan senyuman.
Tanpa basa-basi Biyan bercerita tentang sosok wanita yang selalu dinantinya.
                “namanya Treezna, aku mengenalnya saat usiaku masih 18tahun. Rendy yang ngenalin aku. Meski tak pernah bertemu sebelumnya aku begitu akrab dengannya. Dan mulai menjalin hubungan. Karena jarak menjadi masalah, aku tak bebas menatap wajahnya. Hanya foto yang aku punya tapi sekarang sudah tidak setelah memutuskan untuk berpisah. Enam bulan membuatku tak tenang tampanya. Kucoba lanjutkan lagi hubungan itu dia menerima tawaranku. Dua tahun kemudian aku baru bisa menemuinya. Kali pertama kulihat wajahnya. Sungguh ingin memeluknya kala itu. Tapi pertemuan kita terasa kaku. Aku hanya berani menyentuh tangannya sedikit mencium kepalanya. Buatku itu sudah menenangkanku. Dan itu hanya beberapa hari melihatnya..!!”
                “terus kalian bagaimana..!!” tanyaku seru
                “hubungan terus berlanjut meski aku harus balik kekotaku. Sampai tahun ke 4. Aku memintanya menemuiku tapi kenapa begitu banyak alasan darinya sampai buatku harus mengambil keputusan sendiri..!!”
                Mata Biyan mulai sedikit berkaca dan terus melanjutkan cerita tentangku. Tentang bintang kecil yang punya peran penting dalam kisahnya. Aku tak tahu harus berbuat apa siang itu. Menatap penuh wajahnya masih buatku gelisah. Kata demi kata aku menyimaknya. Semua yang dikatannya benar adanya. Tak satupun yang tersembunyikan. Sejam dua jam bahkan sampai tiga jam Biyan terus dan terus mebahasnya. Sungguh hatiku lirih mendengarnya
                “bila aku mengerti bahwa rasa sakit itu memang harus ada, maka dia tidak akan benar-benar terasa sakit. Karena aku tahu tujuannya adalah pendewasaan. Aku sadar rasa kecewa pada diri sendiri tidak pernah datang secara tiba-tiba, tapi merupakan hasil dari proses. Dan seperti itulah proses tentang aku dengannya..!!”
                Kupandangi wajah Biyan tanpa jeda
                “take me to the star..!!” sebutnya lembut
                Keningku mengerut. Tak mengerti ucapannya. Biyan menatapku sedikit senyum
                “dia ingin hidup di tempat yang asing. Ditempat yang tak seorangpun mengenalnya begitupu sebaliknya. Ia ingin hidup tanpa dihakimi siappun dan apapun. Bersamaku hatinya merasanya nyaman begitupun dengan tempat asing yang dia inginkan..!!”
                Tenggorokan Biyan menjadi kering karena berbagi kisah denganku. Batuknya tak lagi tertahan.
                “bentar yach aku beli minuman dulu. Didepan ada warung..!!” ucapku menarik dompet yang ada di tas.
                Biyan tersenyum. Mungkin menjadi waktu buatnya tuk menyeka air matanya begitupun denganku. Ponselku bordering. Karena cukup lama Biyan menjawab tanpa sepengetahuanku.
                “hai treezna, gimana, dah ngomong ke Biyan..!?” Tanya Rendy
                Biyan terkejut lalu menutup telponnya.
                “sorry lama, tadi penjualnya nyari uang kembalian..!!”
                Kusodorkan botol kecil serta snack buatnya. Biyan meraihnya tanpa senyum. Seperti sesuatu telah terjadi dengannya.
                “kenapa Biy, lanjutin ceritanya aku masih mau dengar..!!”
                “engga pa-pa, kapan-kapan aja dilanjutin..!!”
                “koq gitu, padahal kan belum kelar..?!” pintaku menarik tangannya
                Biyan memandangiku. Seakan dia tahu sesuatu. Tapi tidak mungkin. Memang karakternya seperti itu.
                “kita pulang..!!” ajaknya tiba-tiba beranjak dari duduknya
                “tapi Biy ceritanya..!?” teriakku padanya
                Biyan terus berjalan tak peduli seperti apa aku dibelakangnya. Seakan ada yang disembunyikannya. Aku masih ragu soal itu. Tak ada orang lain selain kami. Entah kenapa wajahnya terlihat bungkam berlalu dan terus berlalu meninggalkanku.
                Sesampainya dirumah kusampaikan hal itu ke Rendy. Semua berawal ketika Rendy menghubungiku. Dan Biyanlah yang menjawab telponnya. Sontak aku kaget begitupun dengan Rendy. Aku meminta Rendy untuk diam. Untuk tak masuk dalam masalah ini. Kuyakinkan Rendy dan memastikan semua pasti terjadi dan akan baik-baik saja.
                Aku pikir setelah kejadian itu Biyan tak ingin lagi mengenalku. Sama sekali aku tak menyalahkannya. Bukan berarti aku tak lagi mengunjungi danau kecil itu. Hanya tak ingin terlihat olehnya datang malam hari bukan hal buruk buatku. Kali ini aku datang ke danau kecil itu bukan untuk Biyan tapi untuk kisahku sendiri. Mungkin bintang kecil bisa jadi menenangkanku.
                Suatu malam menjadi awal atau mungkin akhir buatku. Suatu pengharapan tetap menjadi kerinduan. Bahagia, jelas aku bahagia meski beberapa hal yang sangat kuharapkan untuk terjadi tapi belum terjadi. Aku merasa tak terganggu hanya karena sebuah pertanyaan “mengapa harus terjadi..??” itu karena aku ikhlas.
                Dalam duduk kupandangi bintang. Kubercakap sendiri seperti apa kebahagian yang mengalahkan sedihku.
                “andai bintang kecilnya masih buat aku, pasti semua engga bakal gini dech..!!” ecapku terdengar ketus
                Masih terus aku bercakap tanpa sepengatahuan Biyan berdiri di belakangku.
                “dari mana kamu tahu tentang bintang kecil itu..!?”
                Aku tak lagi kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Sekarang dia harus tahu maksud kedatanganku.
                “Letiyza, singkatan nama yang cukup mewakili perasaanku padamu..!!” jelasku pada Biyan
                “kamu..??” keningnya mengerut penuh Tanya
                “iyya, aku suka bintang kecil yang setiap malam tersampaikan buatku sebelum tidur, aku takut pantai, laut atau sejenisnya. Aku takut ketinggian, pencita fireworks dan penikmat bintang dan penggalau malam. Namaku treezna..!!”
                Kujelaskan semua padanya tentangku serta tentangnya. Wajahnya terlihat shock. Tak ingin percaya namun semua kataku begitu meyakinkannya. Marah, kecewa, benci bahkan rindu berbaur menjadi satu. Semua Nampak jelas. matanya memandangiku tajam. Bola matanya tak bergerak sedikitpun. Sungguh aku siap dengan sikapnya setelahnya.
                Biyan mengambil ponsel di sakunya. Menekan atau mencari apa, aku tak tahu. Tiba-tiba ponselku bordering. Kuambilnya dari dalam tas. Air mataku tak bisa lagi menahannya untuk menetes. Namanya muncul di layar ponselku. Kupandangi lagi wajahnya yang mencoba mereject lalu menghubungiku ulang. Tak ada suara dari mulutnya. Beranjak lalu meninggalkanku.
                Kali ini tak kubiarkan pergi tanpa penjelasan. Mencoba memaksanya karena tak ada pilihan lain.
                “kenapa baru sekarang..!?” tanyanya terus berjalan
                “aku baru dapet ijin..!!” jawabku berjalan mengikutinya
                Wajahnya terlihat memerah. Jelas begitu marah terhadapku
                “kanapa selalu menolak menemuiku..??”
                Baru kali ini suaranya terdengar keras seakan membentakku dengan memegang erat pundakku lalu menatap mataku tanpa kedipan. Aku terdiam sejenak dan dia memandangiku dengan berair mata.
                “aku ingin melihat sesetia apa dirimu..!?”
                Biyan melepaskan tangannya lalu mendorongku. Aku terjatuh dengan ke dua tangan menyentuh tanah. Aku sungguh tak menyalahkannya.
                “harus seperti itu caramu, apa engga ada cara yang lebih lagi..??” 
                Aku tak kuasa berdiri. Kucoba jelaskan satu persatu seperti apa yang sebenarnya. Menunduk dan membiarkan air mataku jatuh ke tanah.
                “aku ingin hidup dengan hati. Sebab fisik mutlak berubah. Dan aku ingin kau menyayangi hatiku tanpa melihat fisikku. Dan aku telah melakukan itu padamu. Biy, aku bahagia dan sanggup bahagia pada kondisi apapun bahkan pada kondisi terburuk sekalipun..!!”
                Kujelaskan semua seperti apa aku menjalani hari-haariku dengan atau tanpanya. Tak satu katapun yang tertinggal. Biyan terdiam terlihat menelaah setiap kataku dan memahami semua maksud penjelasankuku. Aku mencoba berdiri. Kulihat matanya lembab memerah. Kupandangi dan terus kupandangi.
                “bisakah aku memelukmu, lima detik saja..??” pintaku lembut
                Biyan terdiam. Mengingat pintaku dulu. Air matanyapun menetes. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Kupeluk tubuhnya. Kuseka air matanya. Batinku terasa nyaman.
                “Biy, take me to the star..!!” bisikku pelan
                Biyan mengatur nafasnya yang jelas kudengar tanpa nada. Memegang kepalaku lalu membisikkan sesuatu dengan suara yang pelan nan jelas.
                “pasti, kulakukan, apa saja buatmu..!!”
                Hatiku sungguh tenang saat itu juga. Tak pernah aku meraskan semacam itu sebelumnya.
               
Lonely room | november,192012 | 2.52pm |


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar