Sabtu, 24 November 2012

_oh dude_

“hey apa kabar..??” ku ulur tanganku dengan senyum bahagia
“baik..!!” balasnya singkat dengan meraih tanganku
“ engga nyangka bisa ketemu di sini..!?” tanyaku lembut
“iyya..!!” senyumnya memandang penuh wajahku
Kubalas pandangan wajahnya masih sehangat dan setenang yang dulu. Tatapannya yang memesona banyak orang, senyumnya yang indah begitu ikhlas terlihat. Dia masih sosok yang terindah yang pernah aku temui sebelumnya. Tak ku pungkiri kalau jantungku masih berdegup kencang jika melihatnya. Dia begitu indah, bak limited edition buatku.
Hari itu sontak menjadikan wajahku penuh senyum yang tak jarang tersipu malu jika dia menatapku. Kenapa aku masih belum bisa terlupa soal itu, kenapa aku masih begitu mendambanya, seakan aku ingin kembali ke masa itu masa yang lebih dari sepuluh musim berlalu. Kala itu senyumnya yang begitu akrab yang setiap saat terlihat. Wajahnya yang tak begitu asing yang hampir setiap hari menghampiriku dan menjadikan suasana selalu nampak sempurna bila bersamanya. Benar dia pernah dekat denganku, kedekatannya menjadikan pertemanan yang tanpa sungkan, seakan kita begitu sudah mengenal lebih dalam.
              “sorry, aku duluan, ada perlu soalnya..!!” pamitnya yang seketika menghamburkan ingatanku tentangnya
“oh iyya..!!” jawabku senyum tapi hatiku tak menginginkan itu
Pandanganku tak pernah lepas darinya ketika dia membalikkan badannya dariku
“Dant,, tunggu..!!”
“kenapa..!?” tanyanya
Entah kenapa bibirku tiba-tiba bergerak semaunya. Wajahku terlihat tak jelas, tapi tak mungkin kubiarkan dia pergi begitu saja
              “mmmm,, by the way, minta nomor ponselmu..!?” pertanyaan itu yang harus kumulai biar aku masih bisa tahu sedikit tentangnya
“nomormu berapa biar aku yang miscall..!?” Tanya balik
“makasih yach Dant..”
“ok, ya udah aku duluan” jawabnya sedikit senyum lalu berlalu
Pertemuan sore itu begitu singkat yang sungguh sukar buat terlupa Wajahku tersipu yang tak jelas seperti langkah kakiku tanpa tujuan. Kupandangi layar ponselku seperti menerima pesan yang tanpa henti.
                Dengan sadar aku  bergegas meninggalkan gedung itu. Gedung yang dulu selalu menjadi tempat ke 2 kami menghabiskan waktu selain kampus tempat awal aku bertatap muka dengannya. Diperjalan kunikmati pikiranku yang membuatku sejenak tersenyum dan sedih tentangnya, tentang mereka yang pernah menjadi bagian hari-hariku.
                5 hari setelah pertemuan itu. Mataku masih belum bisa teralihkan akan nomornya di kontak ponselku.
                “aakkkhhhh, aku paling benci hal ini”
                Kupandangi ponselku berulang-ulang seakan ingin meremukkannya. Sesekali juga aku melemparnya di atas kasur agar terhindar tapi tetap saja sama. Kuraih lagi lalu memandanginya. Kuawali dengan pesan singkat, berkali-kali kuulang menulisnya tapi akhirnya kudelete juga.
                “sms atau telpon engga ya..??”
                Wajahku terlihat bingung, jelas bertanya tanpa jawaban yang terdengar. Kuhirup panjang nafasku padahal aku tak lagi meditasi malam itu. Kucari lagi namanya di kontak ponselku. Finally.
                “assalamualaikum” suaranya singkat
                Kujawab salamnya pelan. telingaku terasa tertiup oleh suaranya melalui lempengan-lempengan besi yang bernama ponsel.
                “Dant, ganggu engga..?!”
                “engga, kenapa treez..!?”
                Kuawali semua dengan pembahasan yang ringan. Awalnya cukup kaku tapi kucoba imbangi dengan sikapku yang dulu yang ia kenal. Seperti sebuah perjanjian yang kubuat dengannya. Buat sikapku menjadi tak tentu. Entah tersenyum atau nampak resah yang terlihat. Akkkhh peduli amat ini hanya rencana. Tapi tak bisa kutampik sesekali aku terganggu akan hal itu.
                “apa kabar aku besok yach..??” tanyaku senyum simpul sekilas
                Minggu pagi ini seperti berpihak padaku. Semua yang terlihat seperti objek kebahagiaan. Sesekali aku bernyanyi hanya untuk mewakili perasaanku. Semua rutinitas hari itu seperti hadiah buatku.
                Ponsel mengagetkanku dengan nada serta getarannya yang cukup jelas terdengar. Wajahku semakin sumringah. Pagi menjelang siang menjadi hari baru buatku.
                Pesan singkat darinya sangat persis dengan karakternya
                “ nanti jam 2 jadi ketemuannya..?!”
                Kubaca perlahan setiap baris katanya. Senyumku hari itu serasa membuncah tanpa henti sambil membalas tanyanya.
                Beberapa jam kemudian aku sibuk dengan diriku sendiri. Kucoba berdandan tanpa henti. Semua baju-bajuku yang menurutku bagus telah kucoba. Tak biasanya aku seperti ini. Yang dulunya hanya tampil casual saat dengannya. Sungguh kali ini berbeda. Kuingin terlihat anggun didepannya. Dengan gaun serta high heel yang tak pernah kuperlihatkan padanya sebelumnya. Wangi, begitu wangi aku siang itu.
                Tiba ditempat yang kujanjikan. Dari kejauhan kulihat dia sibuk dengan ponselnya. Perlahan aku menghampirinya. Dikepalaku teringat jelas beberapa musim yang lalu. Tempat itu telah menjadi sejarah buatku tentangnya, tentang mereka. belum sempat aku keluar dari ingatanku. Wajahnya mengagetkanku, sedikit senyum ia lemparkan padaku, pertanda dia sudah menunggu.
                “sorry, telat”
                “engga apa-apa”
                Menit pertama seperti rencana dan berjalan sempurna. Iapun cukup memuji penampilanku. Kucoba buatnya tersenyum dengan cerita ringan dan lucu seperti bertukar kisah yang menurutku layak diperdengarkan. Menit berlalu sesekali aku mencicipi makanan dan minuman yang dia pesan buatku. Cerita yang mengingatkan tentang kisah lalu yang cukup menarik masih terus kusenandungkan. Jelas terlihat di wajahnya betapa seriusnya dia menanggapi semua itu. Gelak tawa mulai terdengar meski kadang mengganggu orang sebelah yang lagi duduk. Bukan masalah buatku setidaknya aku menikmati hari itu.
                Suasana cukup berubah ketika ia menayakan sesuatu tentangku. Sontak aku kaget tapi tak ingin terlihat olehnya. Di sodorkan ponsel miliknya. Ia ingin aku membaca sesuatu.
                “benar itu darimu..??” tanyanya tanpa senyum
                “maksudnya” tanyaku balik seakan menyangkalnya
                “kamu pasti sudah tahu maksudku..!!”
                “darimana kamu tahu kalau itu aku..!?”
                “setelah pesan itu aku ketemu Alif, kami bicara banyak, soal anak-anak, kuliah , karena aku kangen kalian semua aku coba minta nomor baru kamu ke Alif, aku belum sadar soal itu. Setiba di rumah aku coba menghubungimu. Aku kaget nomor itu ternyata nomor kamu. Sungguh aku tak percaya. Beberapa minggu kemudian aku coba menghubungimu lagi tapi nomor itu sudah engga aktif lagi” jelasnya panjang lebar
                Ditatapnya wajahku. Matanya tak pernah setajam itu. Sungguh tak bisa aku lari dari pandangannya. Tak ada kata yang terucap selain kata maaf dariku.
                “aku ingin dengar alasan kenapa kamu berikan itu padaku..??”
                Detik itupun wajahku berubah, perona merah dipipiku serasa memerah keseluruh wajahku dan pandangannya masih terarah buatku yang menjadikan aku sedikit bodoh dihadapannya. 2 menit aku terdiam, wajahnya masih sama seakan menunggu penjelasan dan pernyataan dariku.
                Aku masih dengan diamku, keningku mengerut. perlahan ia mencoba tersenyum dengan maksud tertentu. Senyumnya buatku luluh dan mengawali semuanya. Berawal dari aku mengenalnya sampai berpisah darinya.
                “kenapa kau lakukan itu padaku..!?”
                Banyak pertanyaan darinya yang membuatku tersudut. Tak banyak yang bisa kulakukan tapi mungkin ini waktu yang tepat.
              “jujur, aku sedikit besar kepala saat membaca pesan pertama darimu. Tak pernah aku menanggapi pesan yang sifatnya memuja tentang fisikku. Tapi kurasa kali ini berbeda. Aku menghubungi nomor pengirim itu tapi tak dapat jawaban juga. Itu kulakukan berkali-kali..!?”
            “aku tak mau menjawabnya karena aku yakin kau begitu mengenali suaraku..!!” jawabku
             “tapi bisakan kau merubah suaramu atau apalah”
Pertanyaannya semakin bertambah dan terus bertambah. Kali ini ia betul-betul ingin tahu semuanya. Tak ingin satupun tersembunyikan.
“aku engga bisa..!!”
“kenapa engga bisa..??”
“pokoknya engga bisa..!!”
Kusentakkan kedua tanganku diatas meja. Spontan wajahnya sedikit berubah. Tapi pertannyaannya terus terdengar
“coba kau bacakan pesan ini, aku ingin mendengar langsung dari mulutmu..!!”
Disodorkannya lagi ponselnya ketanganku. Tanpa bisa berbuat apa-apa perlahan kubaca pesan ku sendiri dengan pikiran yang penuh dikepala.
              “kulihat sosok jangkung dengan rambut lurus berwarna hitam, penampilannya sangat sederhana. Tubuhnya dibaluti kaos begitupun dengan jaket yang selalu menggantung ditubuhnya yang sedang berdiri tepat dihadapanku. Saat menatap wajahnya seperti aku melihat seorang idola yang begitu tenang penuh kharisma. Matanya sejuk dan berbinar. Suaranya merdu bahkan lebih merdu dari lagu kesayanganku. Entah kenapa jantungku berdetak lebih kencang tanpa irama. Tapi aku tak ingin terlihat akan hal itu. Saat melihatnya seperti aku melihat tokoh-tokoh dalam komik jepang. Matanya indah. Bibirnya lucu. Serta hidungnya mancung. Sangat perfect buatku. Nilai yang sangat maximum dengan skala istimewa. Indah.  Dia mahluk yang indah yang pernah aku temui”
“sejak kapan kau merangkai kata itu..??”
“sejak hari itu, awal kita bertemu..!!”
“kenapa setelahnya kamu baru mengirimnya padaku”
“karena aku pikir kita mungkin tak bertemu lagi..!!”
Disandarkannya punggungnya dikursi, sesekali ia menatapku lalu menunduk. Sungguh aku tak tahu apa yang ada diotaknya. Mungkinkah ia marah, kecewa atau bahkan benci terhadapku. Semua pikiran negative yang ada dibenakku mulai bermunculan tentangnya. Sungguh aku merasa kalah dengan kata-kataku sendiri.
                “Dant, aku minta maaf, karena sikapku. Aku tak mau jikalau kamu tahu semua pasti berubah. Tak ada lagi persahabatan, tak ada lagi kebersamaan, tak ada lagi canda tawa”
“siapa yang tahu soal ini, Kenan atau Alif..!?”
               “Yeza, yang tahu cuma Yeza, tapi Yeza tahu saat kita masih bersama. Setelah kita terpisah Yeza  tak tahu lagi begitupun dengan Kenan dan Alif..!!” jawabku tegas
engga nyangka aku treez”
Dibasuhnya wajahnya seperti terlihat lelah. Sesekali memalingkan wajah kearah yang tak jelas. Kadang ia terdiam sejenak. Seperti yang pasti wajah tenangnya masih bisa menahan perasaannya yang entah seperti apa. Tapi ia masih menghargai keberadaanku.
“kata Alif, kamu yang selalu ngajak dia buat ketempatku sama Yeza. Kenapa..??” tanyaku pelan
“yeach cuma pengen ngumpul aja”
“tapi kan bisa di kampus..?!”
Posisiku seperti membalikkan semua pertanyaan kepadanya. Mungkin baik buatku jika aku tahu juga seperti apa rasanya kala itu. Kulontarkan banyak pertanyaan meski sesekali dia menjawab dengan senyum manis.
“kenapa Dant, waktu kita marahan sikap kamu seperti itu waktu di tempatnya Alif..??”
“nunggu kamu negur..!!” jawabnya terengar cuek
“masa harus aku yang mulai, kamu kan..??”
“yeeaachhh engga enaklah entar aku dicuekin”
“tapi aku kan jadi malu sama Alif”
“Alif tahu koq alasannya”
“tapi aku engga” ucapku tegas
Kupandangi wajahnya, yang pasti caraku tak seperti dulu. Senyumnya segar. Begitu mengingatkan aku akan kisah lalu. Ingin sekali kuulang semua. Karena aku merasa ada sesuatu yang aneh darinya.
“tapi bener yang dikatakan Alif kejadian sore itu..?!” tanyaku terdengar manja
“menurutmu..??”
“koq nanya balik”
Dante tersenyum, sepertinya ia membenarkan semua perkataan Alif. Terang aku begitu bahagia tapi berusaha menutupinya.
“Dant, kamu ingat engga sore itu, di tempat Alif bareng teman-teman yang lain..??”
“yang mana, kan sering kita kumpul di tempat Alif..!?”
“tapi kan sama Kenan dan Yeza. Yang ini waktu pada rame-ramenya”
“oowhhh, ingat. Kenapa..!?”
                “kenapa kamu lebih milih mereka, aku merasa mereka telah menjauhkanmu dariku, dengan menawarkan senyum-senyum yang indah darinya”
“kamu jealous..??”
“engga, cuma sedih aja”
Dante tertawa kecil mendengar pertanyaanku. Entah aku polos dengan pertanyaanku sendiri atau bego dengan sikapku.
Sedikit demi sedikit  Dante bercerita tentang aku, Yeza, Alif dan Kenan. Tak semua yang kupikir tentangnya adalah benar. Setidaknya aku sedikit bahagia dan bangga karena tak jarang dia memuji dan merindukanku meski terkadang aku selalu dijahili olehnya. Mungkin cara itu bisa buatnya lebih dekat denganku.
Aku nampak lega. Semua yang yang lalu telah tersampaikan. Sekarang terserah ia kedepannya. Aku tak kecewa setidaknya dia sudah tahu tentangku. Tentang kebersamaan kami. Tentang mereka yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Tak bisa kujelaskan lagi seperti apa wajah dan senyumnya siang itu. Yang aku ingat darinya, ia membuatku lebih nyaman dibanding sebelumnya. Hatiku berdegup lebih kencang dari sirine.
“oh ya treez, sepertinya aku harus balik, ada pesan dari temen”
“ya udah, obrolan kita juga sudah selesai, semuanya sudah terjawab” jawabku
Kutarik tasku lalu berdiri, berniat meninggalkannya.
“dant, ini buat kamu”
“ini apa an..??”
“baca aja, maaf harusnya ini kuberikan dari dulu.., ya udah aku duluan”
Dipegangnya beberapa lembaran kertas yang aku berikan padanya kemudian tersenyum. Dilangkahku aku merasa bingung sekaligus bahagia. Berharap pemberianku bisa menjadi hikmah.
                Dear dude | betapa setianya aku menikmati setiap garis wajahmu | ingin sekali kumiliki | sebab kau layak mendapatkan yang lebih |  jika esok pertemukan kita lagi | aku ingin menjadi saksi tunggal | perubahan setiap garis wajahmu yang akan menua |
                Sore itu aku pulang meski dengan tangan hampa tapi pikiranku telah lega. Kenapa baru sekarang kita bertemu. Tapi sudahlah aku bersyukur meski lama menunggumu. Kali ini tak ada harapan indah dibenakku. Aku berjalan seiring kaki membawaku. Aku tersenyum, tak peduli keadaan sekitar menertawakanku. Tempat ini selalu menjadi saksi. Meski tanpa Yeza, Alif dan Kenan yang selalu kurindukan.
                Seminggu setelahnya. Kupandangi ponselku. Sore itu seperti mengharuskan aku menghapus semua pesan darinya. Aku tersenyum mengingat kejadian tentangnya. Tentang dia yang begitu indah. Belum sempat aku meletakkan ponselku. Nada pesannya mengagetkanku.
                “hey, manja,,, besok malam ketemuan yach, aku ingin kamu menjadi saksi tunggal saat aku menua”
                tak bisa kututupi seperti apa senyumku sore itu. Nafasku serasa bebas, sebebas gayaku yang lepas setelah membaca pesan darinya. Sungguh tak pernah kubayangkan kalau ia membalas inginku.
                Its unbelievable, setelah bertemu dengannya malam itu. Wajahku memerah seperti tomat. Tak hanya pujian yang ia berikan tentang fisikku tapi juga perasaan yang ia tawarkan yang harusnya ia tawarkan saat masih bersama.
                Dante ohh Dante i do like you do….

Lonely room | agustus | 2012 |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar