Sabtu, 24 November 2012

_sorry Laza_

Namanya Laza. Kali pertama aku melihatnya saat usiaku masih dengan seragam putih biru, dengan rok selutut serta kemeja yang pas ditubuhku. Siapa yang engga mengenalnya tampangnya begitu beredar disekolahan. Wajahnya yang putih dan halus menjadi enak dipandang, kulitnya putih bersih, postur tubuhnya ideal kala itu. Penampilannya begitu rapi  tertata dari ujung kepala sampai kaki. Setiap ia tersenyum membuat siapapun yang melihatnya begitu menikmatinya. Kata orang, dengan ia tersenyum membuat wajahnya mirip Justin Timberlake. Sungguh semanis itu yang kulihat. Dan nyatanya memang seperti itu. Wajahnya lucu membuat banyak wanita disekolahan mengaguminya bahkan mungkin banyak yang menginginkannya.
Aku belum tahu perasaanku saat itu. Yang aku tahu selain namanya, aku benar mengaguminya meski aku belum mengenalnya lebih apalagi ngobrol dengannya.
Kelasku kala itu tak pernah satu dengannya, karenanya aku sulit mengenal tentangnya. Mungkin karena itu pikiranku tentangnya sangatlah beda dengan sifatnya yang sebenarnya. Buatku jadi satu kesempatan ketika aku melihatnya tersenyum meski bukan untukku. Tak lama mengaguminya tahun itu harus memisahkan pandanganku darinya begitupun dengan teman-teman yang lainnya.
Setelahnya seragamku berganti menjadi Putih, abu-abu yang menjadikannya  terlihat sedikit menari. Masih dengan rok selutut dan kemeja yang pas ditubuhku. Semua terlihat berbeda tak seperti tahun sebelumnya. Tak pernah terlogiskan olehku kalau tahun itu mempertemukan kita lagi. Secara fisik tak ada yang berubah darinya selain warna seragam yang dikenakannya sama denganku. Wajahnya masih lucu bahkan lebih. Auranya seperti terlihat jelas. Seragam yang dikenakannya nyaris sempurna yang begitu tertata rapi. Bagaimana aku tak tahu soal itu. Setiap pagi yang hampir tujuh jam aku bertemu dengannya dan itu terjadi selama enam hari dalam seminggu.
“oh ALLAH he is back, this is real or am i dreamin’..?!” ucapku dalam hati saat dia duduk dibangku yang tak jauh dariku.
Aku masih menaruh kekaguman padanya meski dalam hati selalu memustahilkan semua tentang itu tapi tidak dengan hari-hari yang selalu menghamburkan senyumnya padaku. Kelaspun memperkenalkan kami. Sungguh masih diluar logikaku. Kali pertama aku mencoba mencuri wajahnya lewat pandanganku. Aku masih merasa tak yakin ketika ia tersenyum padaku. Sampai disuatu waktu diluar jam pelajaran
                “hey, boleh ikutan engga..??” tanyanya senyum berdiri disampingku
                Aku terdiam sesaat. Kupalingkan wajahku kearah Laraz yang kini jadi sahabatku bertanda isyarat buatnya, tapi sayang Laraz tak mengerti maksudku. Tanpa basa-basi Laza duduk disampingku yang membuatku tak bisa berbicara banyak.
                Dan semua berwal dari siang itu. Aku mulai saling mengenal. Kekagumanku padanya terus berlanjut. Laza seakan menyambut baik soal itu. Namun dipikiranku kalau sikapnya hanya untuk menghibur diri karena tak bersama sahabatnya. Ia mencoba membagi senyumnya setiap aku bertatap muka dengannya. Seperti tak ada rekayasa darinya. Semua berjalan senatural itu.
                Hari ke hari membuatku semakin akrab dengannya yang membuatku salalu tersenyum untuknya tapi membuatku juga sulit percaya.
                “engga mungkin Laza seperti itu..!?” bisikku dalam hati
                Ingin sekali aku berbagi soal ini ke Laraz. Tapi melihat wajah Laraz membuatku tak yakin karena semua pasti akan sampai ketelinga yang lain.
                “raz, aku keluar dulu yach..!!”
                “kemana..??” tanyanya yang lagi asyik dengan teman yang lain.
                “Cuma depen kelas aja koq..!!” jawabku lalu meninggalkannya
                Tak tahu kenapa aku tiba-tiba meninggalkan Laraz yang tak biasanya. Tapi mungkin ini jalan yang telah membawaku dekat dengan Laza. Tepat depan kelas aku melihatnya duduk sendiri. Aku mencoba mendekatinya.
                “koq disini, yang lain mana..??”
                “ke kantin..!!”
                Itu kali pertama aku ngobrol berdua dengannya. Obrolan yang biasa saja. Kucoba tahan perasaanku biar tak terbaca dan kaku dihadapannya. Semua berjalan sempurna seakan aku merencanakan sebelumnya.
                Laza membuat  pikiranku semakin sulit kumengerti. Sosoknya membuatku bertanya-tanya tapi sesekali memberi isyarat padaku kalau dia ingin mengenaliku lebih dekat.
                “oh ya, aku masuk kelas dulu..!!” pamitku tanpa senyum
                “nanti aja..!!” pintanya
                Kutinggalkannya tanpa senyum sambil sejenak memejamkan mata. Kutarik nafasku pelan. Laza tak banyak bicara padaku tapi senyumnya terus terkirim buatku.
                Malam-malamku masih seperti dulu. Belajar, belajar dan belajar meski harus berembuk dengan buku-buku pelajaran. Otakku tak terbilang cerdas tapi aku masih bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah tanpa banyak bantuan dari teman.
                Pagi itu sebelum kelas dimulai
                “hey Treez..!!” tegur Laza sepagi itu sambil menyandarkan punggungnya dipintu kelas.
                “hey..!!” jawabku singkat lalu berlalu darinya.
                Mulai saat itu Laza mencoba menggangguku dengan senyumnya. Tak hanya itu dia mencoba mendekatiku. Benar aku tak percaya, sesuatu itu tak mungkin terjadi. Sosoknya yang begitu menarik menginginkan dekat denganku. Aku yang begitu biasa saja tak memiliki wajah rupawan. Sesekali aku menjauhinya takut kalau itu hanya gurauan atau mungkin lelucon buatku.
                Hari ke hari aku mencoba menengkan pikiranku dan tak terus menghindar darinya. Kuikuti inginnya sekedar mencari tahu niatnya. Sejak saat itu banyak waktu kuhabiskan dengannya meski sebatas berbincang tentang apa yang terjadi.
                Laza baik. Tak seperti apa yang tebayang olehku selama ini. Sikapnya selama ini tanpa rekayasa. Seperti cerita yang seadanya. Tak bisa lagi aku merapikan tingkahku setelah kejadian itu karena terus terbuyarkan olehnya. Usiaku yang masih polos saat itu menjadikan hari-hari menjadi peruntungan buatku.
                “hey Treez, homeworkmu udah..??” Tanya Laraz
                “iyya, ni..!!” kusodorkan buku tulis yang berwarna hijau pada Laraz
                “thanx..!!” jawabnya lalu menyalin semua tugas-tugasku
                Kini aku berada dibulan ke 5. Sikapku masih terlihat sedikit kaku tentang Laza tapi aku tak sedikitpun berbagi semua itu ke Laraz. Laraz tak pernah membahas soal itu meski pernah sekali aku melihat matanya disuguhi sedikit tanda tanya besar ketika melihat Laza menarik tanganku. Entah apa yang harus kulakukan hari itu.
                Waktu ke waktu masih mebuatku ceria tapi aku tak bisa hanyut tentang itu, dikepalaku masih ada segepok pertanyaan. Pertanyaan yang tak bisa kutujukan pada siapa.
                “treez, koq belum keluar..?? Tanya Laraz
                “bentar lagi..!!”
                “ya udah aku duluan, aku tunggu diluar..!!”
                “iyya..!!”
                Pagi itu aku ada kelas olahraga. Tapi sebelumnya semua murid diharapkan untuk kerja bakti, bersih-bersih sekitar sekolah. Kucoba cari waktu agar bisa ngobrol dengan Laza dengan membiarkan Laraz keluar lebih dulu. Kulihat Laza berdiri di koridor depan kelas sepertinya waktu menginginkan itu. Kupandangi wajahnya yang saat itu mengenakan pakaian olahraga. Wajahnya masih tetap sama seperti awal melihatnya.
                Aku menjadi kaku dibuatnya untuk memulai. Entah kenapa aku membiarkannya. Tak ada pilihan selain meninggalkannya. Langkah kakiku sedikit terantuk, ternyata tali sepatuku terlepas dari ikatan pitanya. Kubungkukkan badanku, mataku hanya tertuju pada jari-jariku yang lihai dengan ikatan simpulku.
                “sepatunya kenapa..??” Tanya Laza yang tiba-tiba muncul didepanku
                “ini. Tali sepatunya lepas..!!” jawabku lalu berdiri
                Dengan santai Laza merangkul pundakku dengan senyum yang ia perlihatkan. Detik itu juga aku kaget. Kulepas tangannya dari pundakku lalu memandang wajahnya tanpa senyum. Entah dari mana datangnya si Jogi menampakkan wajahnya yang selalu kuhindari karena kenakalannya. Menertawakanku dengan nada sedikit membuatku tak nyaman.
                “gimana Za, puas..!?” celah Jogi dengan tawa yang menyebalkan.
                Laza tersenyum tanpa kata. Seperti ada rencana yang diketahui oleh Jogi si pengganggu yang selalu kuhindari setiap bertemu.
                Tiba dipekarangan sekolah tempat dimana kerja bakti dimulai. Aku berbaur dengan teman-teman yang lain begitupun dengan Laraz. Saat menikmati tugas itu tiba-tiba tanganku tertusuk duri.
                “aawww, spontan aku menjerit kecil..!!”
                “tangannya kenapa Treez..??” Tanya Laza lembut
                “engga apa-apa..!!”
                Laza meraih tanganku. Matanya tertuju serius pada jari telunjukku yang sedikit berdarah.
                Dasar Jogi si pengganggu yang tiba-tiba muncul dengan sifat buruknya.
                “yaelah Za, kamu ngapain ma Treezna..!?” tanyanya lalu melepaskan tangan Laza
                Tak bisa aku berucap, mengelak Jogipun tak mampu. Suasana hatiku benar-benar kesal. Kesal bukan karena Jogi tapi sikap Laza yang tak tegas. Kekesalan itu membuatku menjauhi Laza tanpa sikap
                Setelah kejadian itu kubiarkan senyum Laza tak terbalas olehku. Kubiarkan sikapnya tanpa teguran dariku. Dan kubiarkan itu berlalu hampir 2 pekan. Tapi tugas sekolah menyatukan kita lagi.ekstra kurikuler mengharuskan aku menegurnya. kali pertama aku mengajaknya kerumah. Mengerjakan tugas sekolah dengan teman yang lainnya. Tak masalah buatku. Dengan itu komunikasi berlanjut lagi dengannya.
                Hampir setahun aku mengenalnya. Saat itu juga dia mencoba berbagi tentang kehidupannya. Setiap dia bercerita aku selalu menjadi pendengar yang baik dan setia. Tak peduli lagi seperti apa sikap Jogi yang perlahan menghilang dengan sendirinya. Kubiarkan hari-hariku penuh dengan senyumannya. Kunikmati setiap sikap yang dia tujukan padaku. Aku bahagia melewati itu semua. Bahagia dengan sikapnya yang mengistimewakanku.
                Sampai suatu ketika sikapnya sedikit berubah. Perlahan namun pasti. Aku tak tahu ada apa dengan Laza. Kucoba reka ulang ingatanku tentangnya tapi tak ada masalah. Kucoba mencuri perhatiannya tapi senyumnya tak semanis dulu. Kudekati dia bermaksud mencari sesuatu yang terjadi. Dia begitu dingin dan tertutup soal itu. Dan disuatu hari yang mengagetkanku. Dia bersikap sedikit tak ramah terhadapku. Aku berusaha memberikan perhatian yang lebih tapi hasilnya nihil. Sangat yakin buatku kalau masalah serius telah dihadapinya. Tak banyak yang bisa kulakukan. Sikap dinginnya memintaku untuk menciptakan jarak darinya
                Tahun ke dua buatku tak nyaman. Laza menghilang tanpa alasan yang jelas. kata teman dia melanjutkan kelasnya di sekolah lain. Kepalaku tak bisa menjangkau tentang dan sikapnya. Ingin kutujukan ada apa dengannya tapi tak tahu pada siapa. Begitupun dengan tempat tinggalnya.
                Saat itu juga aku lost contact dengannya. Kucoba jalani hari-hariku tanpa Laza. Tanpa semua tentangnya. Sedikitnya aku berusaha mencari cara agar ingatanku tak selalu tertuju padanya. Memang tak mudah tapi itu menjadi keharusan buatku.
                Tahun ketiga membuatku tegar. Sampai akhirnya aku meninggalkan seragamku tanpanya. Tak ada berita darinya yang kudengar. Dalam harap aku bisa bertemu dengannya sebelum aku melanjutkan studyku diluar kota.
                Semua tak seperti harapku  waktu berlalu tanpa pernyataan yang jelas. Tiga tahun lebih setelah aku lulus dari sekolah. Waktu itu juga aku telah menyelesaikan studyku. Dan menjadi tahun ke 5 aku tak melihatnya. Banyak kenangan darinya sebelum mengenalnya sampai dia pergi begitu saja.
                Namun entah ada apa. Tiba-tiba aku bertemu denganya di sebuah minimarket. Tanpa sengaja melihatnya. Kucoba pandangi wajahnya dari kejauhan. Sepertinya aku tak mimpi malam itu. Saat melihatnya dia juga mengarahkan pandangannya padaku. Seperti yakin kalau itu dia tapi tak sedikitpun senyum darinya. Mataku seperti tak ingin lepas darinya. Ketika dia berjalan kearahku.
                “Laza,,,??” tanyaku pelan
                Wajah dan fisiknya masih seperti dulu. Senyum singkatnya ia coba tawarkan padaku. Kucoba jabat tangannya dengan hangat,
                “lama tak bertemu, kamu apa kabar..!?”
                “Alhamdulillah baik..!!” jawabnya berdiri tepat dihadapanku
                “tadi aku lihat itu kamu, tapi aku pikir aku salah..!?” ucapku tak tentu
                “iyya, aku juga lihat, tapi kamu engga senyum jadi aku mikir kalau itu cuma mirip kamu. Kamu bagaimana kabarnya. Sekarang tambah cantik..??” tanyanya senyum
                “aku Alhamdulillah baik..!!” dalam hati aku berucap ini tahun ke enam kita terpisah dan akhirnya bertemu juga. Sangat jelas di ingatanku karena aku begitu jeli tentang itu.
                Sejenak aku mengobrol dengannya. Sepertinya aku bahagia dan aku melihat dia menikmatinya.
                “oh iyya, sorry aku harus balik..!!
                “nomor ponselmu berapa..??”
                Kuberikan nomorku padanya. Berharap banyak dia menghubungiku.
                “ ya udah aku duluan..!!” pamitku
                Hampir seminggu aku menunggu kabarnya. Dihari-hari itu juga aku mengira dia sudah lupa terhadapku. Mencoba menguhubunginya lebih dulu melalaui pesan singkat adalah hal yang wajar kulakukan. Dan semua tak seperti yang ada dibenakku. Laza lebih dulu menunggu aku menghubunginya dan bepikir kalau aku tak lagi peduli tentangnya.
                Pertemuan menjadi janji setelahnya. Hari telah ditentukan olehnya untuk menemuiku. Sore itu Laza datang kerumah. Wajahnya nampak segar. Senyumnya seperti yang dulu yang selalu dia tawarkan. Kali ini waktunya diluangkan banyak buatku. Entah mengunjungiku atau hanya melalui ponselnya.
                ia kembali. Laza yang dulu kembali. Laza yang dulu pergi tanpa sepengetahuanku kini kembali membawa kebahagiaan yang dulu dia curi dariku. Banyak cerita tentangnya. Tentang pekerjaan serta studynya yang masih berjalan. Sungguh bisa kutebak perasaanya kini. Yang dulu tertunda.
                Kubiarkan Laza terus mendatangiku. Membawakanku harapan dan senyum terindah setiap bertemu. Kucoba bercerita tentang kisah beberapa tahun silam. Ia tersenyum seperti biasa. Tapi senyumnya berubah jadi diam yang tak jelas ketika aku menanyakan suatu hal yang menurutnya sangat pribadi. Aku cukup tersentak mendengarnya. Hal yang diluar nalarku, diluar logikaku. Laza menghentikan niatku ketika bercerita dengan alazan kenapa dia menghilang. Seperti tanpa semangat aku terpaku di satu arah yang tak jelas.
                Laza mencoba mendekatiku dengan banyak penjelasan. Mencoba memahamiku karena sikapnya. Mencoba mengerti aku dengan berharap banyak tentang masa depanku. Hal yang belum bisa kujawab saat itu juga.
                Sedikit menjauhi setiap ajakannya. Menolak bertemu meski hanya ingin mengajakku jalan. Hari-hari memintaku berpikir soal itu. Sesuatu yang bersifat serius untuk aku dan dia kedepannya. Tak ingin melukainya tapi tak ada pilihan lain. Lambat laun dia mengerti sikapku. Perlahan dia menjauh, menjauh dan menjauh lalu menghilang seperti sebelumnya.
                “sorry Laza. Aku tak bisa dengan keadaan seperti ini. Jika saja aku hidup sendiri pasti sudah kuterima dengan sepenuh hati. Tapi aku tak bisa egois karena mereka masih disekitarku. Don’t worry bout me. I’ll b fine with or without you.Aku yakin kita pasti bahagia tanpa harus bersama. God bye Laza. U’re still d bezt…!!” kata itu yang hampir setiap saat kuucap ketika mengingat tentangnya. Tentang Laza dengan kesempurnaanya.
                                                                                                                                                                lonely room | july |2012 |











Sorry Laza…;

Namanya Laza. Kali pertama aku melihatnya saat usiaku masih dengan seragam putih biru, dengan rok selutut serta kemeja yang pas ditubuhku. Siapa yang engga mengenalnya tampangnya begitu beredar disekolahan. Wajahnya yang putih dan halus menjadi enak dipandang, kulitnya putih bersih, postur tubuhnya ideal kala itu. Penampilannya begitu rapi  tertata dari ujung kepala sampai kaki. Setiap ia tersenyum membuat siapapun yang melihatnya begitu menikmatinya. Kata orang, dengan ia tersenyum membuat wajahnya mirip Justin Timberlake. Sungguh semanis itu yang kulihat. Dan nyatanya memang seperti itu. Wajahnya lucu membuat banyak wanita disekolahan mengaguminya bahkan mungkin banyak yang menginginkannya.
Aku belum tahu perasaanku saat itu. Yang aku tahu selain namanya, aku benar mengaguminya meski aku belum mengenalnya lebih apalagi ngobrol dengannya.
Kelasku kala itu tak pernah satu dengannya, karenanya aku sulit mengenal tentangnya. Mungkin karena itu pikiranku tentangnya sangatlah beda dengan sifatnya yang sebenarnya. Buatku jadi satu kesempatan ketika aku melihatnya tersenyum meski bukan untukku. Tak lama mengaguminya tahun itu harus memisahkan pandanganku darinya begitupun dengan teman-teman yang lainnya.
Setelahnya seragamku berganti menjadi Putih, abu-abu yang menjadikannya  terlihat sedikit menari. Masih dengan rok selutut dan kemeja yang pas ditubuhku. Semua terlihat berbeda tak seperti tahun sebelumnya. Tak pernah terlogiskan olehku kalau tahun itu mempertemukan kita lagi. Secara fisik tak ada yang berubah darinya selain warna seragam yang dikenakannya sama denganku. Wajahnya masih lucu bahkan lebih. Auranya seperti terlihat jelas. Seragam yang dikenakannya nyaris sempurna yang begitu tertata rapi. Bagaimana aku tak tahu soal itu. Setiap pagi yang hampir tujuh jam aku bertemu dengannya dan itu terjadi selama enam hari dalam seminggu.
“oh ALLAH he is back, this is real or am i dreamin’..?!” ucapku dalam hati saat dia duduk dibangku yang tak jauh dariku.
Aku masih menaruh kekaguman padanya meski dalam hati selalu memustahilkan semua tentang itu tapi tidak dengan hari-hari yang selalu menghamburkan senyumnya padaku. Kelaspun memperkenalkan kami. Sungguh masih diluar logikaku. Kali pertama aku mencoba mencuri wajahnya lewat pandanganku. Aku masih merasa tak yakin ketika ia tersenyum padaku. Sampai disuatu waktu diluar jam pelajaran
                “hey, boleh ikutan engga..??” tanyanya senyum berdiri disampingku
                Aku terdiam sesaat. Kupalingkan wajahku kearah Laraz yang kini jadi sahabatku bertanda isyarat buatnya, tapi sayang Laraz tak mengerti maksudku. Tanpa basa-basi Laza duduk disampingku yang membuatku tak bisa berbicara banyak.
                Dan semua berwal dari siang itu. Aku mulai saling mengenal. Kekagumanku padanya terus berlanjut. Laza seakan menyambut baik soal itu. Namun dipikiranku kalau sikapnya hanya untuk menghibur diri karena tak bersama sahabatnya. Ia mencoba membagi senyumnya setiap aku bertatap muka dengannya. Seperti tak ada rekayasa darinya. Semua berjalan senatural itu.
                Hari ke hari membuatku semakin akrab dengannya yang membuatku salalu tersenyum untuknya tapi membuatku juga sulit percaya.
                “engga mungkin Laza seperti itu..!?” bisikku dalam hati
                Ingin sekali aku berbagi soal ini ke Laraz. Tapi melihat wajah Laraz membuatku tak yakin karena semua pasti akan sampai ketelinga yang lain.
                “raz, aku keluar dulu yach..!!”
                “kemana..??” tanyanya yang lagi asyik dengan teman yang lain.
                “Cuma depen kelas aja koq..!!” jawabku lalu meninggalkannya
                Tak tahu kenapa aku tiba-tiba meninggalkan Laraz yang tak biasanya. Tapi mungkin ini jalan yang telah membawaku dekat dengan Laza. Tepat depan kelas aku melihatnya duduk sendiri. Aku mencoba mendekatinya.
                “koq disini, yang lain mana..??”
                “ke kantin..!!”
                Itu kali pertama aku ngobrol berdua dengannya. Obrolan yang biasa saja. Kucoba tahan perasaanku biar tak terbaca dan kaku dihadapannya. Semua berjalan sempurna seakan aku merencanakan sebelumnya.
                Laza membuat  pikiranku semakin sulit kumengerti. Sosoknya membuatku bertanya-tanya tapi sesekali memberi isyarat padaku kalau dia ingin mengenaliku lebih dekat.
                “oh ya, aku masuk kelas dulu..!!” pamitku tanpa senyum
                “nanti aja..!!” pintanya
                Kutinggalkannya tanpa senyum sambil sejenak memejamkan mata. Kutarik nafasku pelan. Laza tak banyak bicara padaku tapi senyumnya terus terkirim buatku.
                Malam-malamku masih seperti dulu. Belajar, belajar dan belajar meski harus berembuk dengan buku-buku pelajaran. Otakku tak terbilang cerdas tapi aku masih bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah tanpa banyak bantuan dari teman.
                Pagi itu sebelum kelas dimulai
                “hey Treez..!!” tegur Laza sepagi itu sambil menyandarkan punggungnya dipintu kelas.
                “hey..!!” jawabku singkat lalu berlalu darinya.
                Mulai saat itu Laza mencoba menggangguku dengan senyumnya. Tak hanya itu dia mencoba mendekatiku. Benar aku tak percaya, sesuatu itu tak mungkin terjadi. Sosoknya yang begitu menarik menginginkan dekat denganku. Aku yang begitu biasa saja tak memiliki wajah rupawan. Sesekali aku menjauhinya takut kalau itu hanya gurauan atau mungkin lelucon buatku.
                Hari ke hari aku mencoba menengkan pikiranku dan tak terus menghindar darinya. Kuikuti inginnya sekedar mencari tahu niatnya. Sejak saat itu banyak waktu kuhabiskan dengannya meski sebatas berbincang tentang apa yang terjadi.
                Laza baik. Tak seperti apa yang tebayang olehku selama ini. Sikapnya selama ini tanpa rekayasa. Seperti cerita yang seadanya. Tak bisa lagi aku merapikan tingkahku setelah kejadian itu karena terus terbuyarkan olehnya. Usiaku yang masih polos saat itu menjadikan hari-hari menjadi peruntungan buatku.
                “hey Treez, homeworkmu udah..??” Tanya Laraz
                “iyya, ni..!!” kusodorkan buku tulis yang berwarna hijau pada Laraz
                “thanx..!!” jawabnya lalu menyalin semua tugas-tugasku
                Kini aku berada dibulan ke 5. Sikapku masih terlihat sedikit kaku tentang Laza tapi aku tak sedikitpun berbagi semua itu ke Laraz. Laraz tak pernah membahas soal itu meski pernah sekali aku melihat matanya disuguhi sedikit tanda tanya besar ketika melihat Laza menarik tanganku. Entah apa yang harus kulakukan hari itu.
                Waktu ke waktu masih mebuatku ceria tapi aku tak bisa hanyut tentang itu, dikepalaku masih ada segepok pertanyaan. Pertanyaan yang tak bisa kutujukan pada siapa.
                “treez, koq belum keluar..?? Tanya Laraz
                “bentar lagi..!!”
                “ya udah aku duluan, aku tunggu diluar..!!”
                “iyya..!!”
                Pagi itu aku ada kelas olahraga. Tapi sebelumnya semua murid diharapkan untuk kerja bakti, bersih-bersih sekitar sekolah. Kucoba cari waktu agar bisa ngobrol dengan Laza dengan membiarkan Laraz keluar lebih dulu. Kulihat Laza berdiri di koridor depan kelas sepertinya waktu menginginkan itu. Kupandangi wajahnya yang saat itu mengenakan pakaian olahraga. Wajahnya masih tetap sama seperti awal melihatnya.
                Aku menjadi kaku dibuatnya untuk memulai. Entah kenapa aku membiarkannya. Tak ada pilihan selain meninggalkannya. Langkah kakiku sedikit terantuk, ternyata tali sepatuku terlepas dari ikatan pitanya. Kubungkukkan badanku, mataku hanya tertuju pada jari-jariku yang lihai dengan ikatan simpulku.
                “sepatunya kenapa..??” Tanya Laza yang tiba-tiba muncul didepanku
                “ini. Tali sepatunya lepas..!!” jawabku lalu berdiri
                Dengan santai Laza merangkul pundakku dengan senyum yang ia perlihatkan. Detik itu juga aku kaget. Kulepas tangannya dari pundakku lalu memandang wajahnya tanpa senyum. Entah dari mana datangnya si Jogi menampakkan wajahnya yang selalu kuhindari karena kenakalannya. Menertawakanku dengan nada sedikit membuatku tak nyaman.
                “gimana Za, puas..!?” celah Jogi dengan tawa yang menyebalkan.
                Laza tersenyum tanpa kata. Seperti ada rencana yang diketahui oleh Jogi si pengganggu yang selalu kuhindari setiap bertemu.
                Tiba dipekarangan sekolah tempat dimana kerja bakti dimulai. Aku berbaur dengan teman-teman yang lain begitupun dengan Laraz. Saat menikmati tugas itu tiba-tiba tanganku tertusuk duri.
                “aawww, spontan aku menjerit kecil..!!”
                “tangannya kenapa Treez..??” Tanya Laza lembut
                “engga apa-apa..!!”
                Laza meraih tanganku. Matanya tertuju serius pada jari telunjukku yang sedikit berdarah.
                Dasar Jogi si pengganggu yang tiba-tiba muncul dengan sifat buruknya.
                “yaelah Za, kamu ngapain ma Treezna..!?” tanyanya lalu melepaskan tangan Laza
                Tak bisa aku berucap, mengelak Jogipun tak mampu. Suasana hatiku benar-benar kesal. Kesal bukan karena Jogi tapi sikap Laza yang tak tegas. Kekesalan itu membuatku menjauhi Laza tanpa sikap
                Setelah kejadian itu kubiarkan senyum Laza tak terbalas olehku. Kubiarkan sikapnya tanpa teguran dariku. Dan kubiarkan itu berlalu hampir 2 pekan. Tapi tugas sekolah menyatukan kita lagi.ekstra kurikuler mengharuskan aku menegurnya. kali pertama aku mengajaknya kerumah. Mengerjakan tugas sekolah dengan teman yang lainnya. Tak masalah buatku. Dengan itu komunikasi berlanjut lagi dengannya.
                Hampir setahun aku mengenalnya. Saat itu juga dia mencoba berbagi tentang kehidupannya. Setiap dia bercerita aku selalu menjadi pendengar yang baik dan setia. Tak peduli lagi seperti apa sikap Jogi yang perlahan menghilang dengan sendirinya. Kubiarkan hari-hariku penuh dengan senyumannya. Kunikmati setiap sikap yang dia tujukan padaku. Aku bahagia melewati itu semua. Bahagia dengan sikapnya yang mengistimewakanku.
                Sampai suatu ketika sikapnya sedikit berubah. Perlahan namun pasti. Aku tak tahu ada apa dengan Laza. Kucoba reka ulang ingatanku tentangnya tapi tak ada masalah. Kucoba mencuri perhatiannya tapi senyumnya tak semanis dulu. Kudekati dia bermaksud mencari sesuatu yang terjadi. Dia begitu dingin dan tertutup soal itu. Dan disuatu hari yang mengagetkanku. Dia bersikap sedikit tak ramah terhadapku. Aku berusaha memberikan perhatian yang lebih tapi hasilnya nihil. Sangat yakin buatku kalau masalah serius telah dihadapinya. Tak banyak yang bisa kulakukan. Sikap dinginnya memintaku untuk menciptakan jarak darinya
                Tahun ke dua buatku tak nyaman. Laza menghilang tanpa alasan yang jelas. kata teman dia melanjutkan kelasnya di sekolah lain. Kepalaku tak bisa menjangkau tentang dan sikapnya. Ingin kutujukan ada apa dengannya tapi tak tahu pada siapa. Begitupun dengan tempat tinggalnya.
                Saat itu juga aku lost contact dengannya. Kucoba jalani hari-hariku tanpa Laza. Tanpa semua tentangnya. Sedikitnya aku berusaha mencari cara agar ingatanku tak selalu tertuju padanya. Memang tak mudah tapi itu menjadi keharusan buatku.
                Tahun ketiga membuatku tegar. Sampai akhirnya aku meninggalkan seragamku tanpanya. Tak ada berita darinya yang kudengar. Dalam harap aku bisa bertemu dengannya sebelum aku melanjutkan studyku diluar kota.
                Semua tak seperti harapku  waktu berlalu tanpa pernyataan yang jelas. Tiga tahun lebih setelah aku lulus dari sekolah. Waktu itu juga aku telah menyelesaikan studyku. Dan menjadi tahun ke 5 aku tak melihatnya. Banyak kenangan darinya sebelum mengenalnya sampai dia pergi begitu saja.
                Namun entah ada apa. Tiba-tiba aku bertemu denganya di sebuah minimarket. Tanpa sengaja melihatnya. Kucoba pandangi wajahnya dari kejauhan. Sepertinya aku tak mimpi malam itu. Saat melihatnya dia juga mengarahkan pandangannya padaku. Seperti yakin kalau itu dia tapi tak sedikitpun senyum darinya. Mataku seperti tak ingin lepas darinya. Ketika dia berjalan kearahku.
                “Laza,,,??” tanyaku pelan
                Wajah dan fisiknya masih seperti dulu. Senyum singkatnya ia coba tawarkan padaku. Kucoba jabat tangannya dengan hangat,
                “lama tak bertemu, kamu apa kabar..!?”
                “Alhamdulillah baik..!!” jawabnya berdiri tepat dihadapanku
                “tadi aku lihat itu kamu, tapi aku pikir aku salah..!?” ucapku tak tentu
                “iyya, aku juga lihat, tapi kamu engga senyum jadi aku mikir kalau itu cuma mirip kamu. Kamu bagaimana kabarnya. Sekarang tambah cantik..??” tanyanya senyum
                “aku Alhamdulillah baik..!!” dalam hati aku berucap ini tahun ke enam kita terpisah dan akhirnya bertemu juga. Sangat jelas di ingatanku karena aku begitu jeli tentang itu.
                Sejenak aku mengobrol dengannya. Sepertinya aku bahagia dan aku melihat dia menikmatinya.
                “oh iyya, sorry aku harus balik..!!
                “nomor ponselmu berapa..??”
                Kuberikan nomorku padanya. Berharap banyak dia menghubungiku.
                “ ya udah aku duluan..!!” pamitku
                Hampir seminggu aku menunggu kabarnya. Dihari-hari itu juga aku mengira dia sudah lupa terhadapku. Mencoba menguhubunginya lebih dulu melalaui pesan singkat adalah hal yang wajar kulakukan. Dan semua tak seperti yang ada dibenakku. Laza lebih dulu menunggu aku menghubunginya dan bepikir kalau aku tak lagi peduli tentangnya.
                Pertemuan menjadi janji setelahnya. Hari telah ditentukan olehnya untuk menemuiku. Sore itu Laza datang kerumah. Wajahnya nampak segar. Senyumnya seperti yang dulu yang selalu dia tawarkan. Kali ini waktunya diluangkan banyak buatku. Entah mengunjungiku atau hanya melalui ponselnya.
                ia kembali. Laza yang dulu kembali. Laza yang dulu pergi tanpa sepengetahuanku kini kembali membawa kebahagiaan yang dulu dia curi dariku. Banyak cerita tentangnya. Tentang pekerjaan serta studynya yang masih berjalan. Sungguh bisa kutebak perasaanya kini. Yang dulu tertunda.
                Kubiarkan Laza terus mendatangiku. Membawakanku harapan dan senyum terindah setiap bertemu. Kucoba bercerita tentang kisah beberapa tahun silam. Ia tersenyum seperti biasa. Tapi senyumnya berubah jadi diam yang tak jelas ketika aku menanyakan suatu hal yang menurutnya sangat pribadi. Aku cukup tersentak mendengarnya. Hal yang diluar nalarku, diluar logikaku. Laza menghentikan niatku ketika bercerita dengan alazan kenapa dia menghilang. Seperti tanpa semangat aku terpaku di satu arah yang tak jelas.
                Laza mencoba mendekatiku dengan banyak penjelasan. Mencoba memahamiku karena sikapnya. Mencoba mengerti aku dengan berharap banyak tentang masa depanku. Hal yang belum bisa kujawab saat itu juga.
                Sedikit menjauhi setiap ajakannya. Menolak bertemu meski hanya ingin mengajakku jalan. Hari-hari memintaku berpikir soal itu. Sesuatu yang bersifat serius untuk aku dan dia kedepannya. Tak ingin melukainya tapi tak ada pilihan lain. Lambat laun dia mengerti sikapku. Perlahan dia menjauh, menjauh dan menjauh lalu menghilang seperti sebelumnya.
                “sorry Laza. Aku tak bisa dengan keadaan seperti ini. Jika saja aku hidup sendiri pasti sudah kuterima dengan sepenuh hati. Tapi aku tak bisa egois karena mereka masih disekitarku. Don’t worry bout me. I’ll b fine with or without you.Aku yakin kita pasti bahagia tanpa harus bersama. God bye Laza. U’re still d bezt…!!” kata itu yang hampir setiap saat kuucap ketika mengingat tentangnya. Tentang Laza dengan kesempurnaanya.
                                                                                                                                                                lonely room | july |2012 |











Sorry Laza…;

Namanya Laza. Kali pertama aku melihatnya saat usiaku masih dengan seragam putih biru, dengan rok selutut serta kemeja yang pas ditubuhku. Siapa yang engga mengenalnya tampangnya begitu beredar disekolahan. Wajahnya yang putih dan halus menjadi enak dipandang, kulitnya putih bersih, postur tubuhnya ideal kala itu. Penampilannya begitu rapi  tertata dari ujung kepala sampai kaki. Setiap ia tersenyum membuat siapapun yang melihatnya begitu menikmatinya. Kata orang, dengan ia tersenyum membuat wajahnya mirip Justin Timberlake. Sungguh semanis itu yang kulihat. Dan nyatanya memang seperti itu. Wajahnya lucu membuat banyak wanita disekolahan mengaguminya bahkan mungkin banyak yang menginginkannya.
Aku belum tahu perasaanku saat itu. Yang aku tahu selain namanya, aku benar mengaguminya meski aku belum mengenalnya lebih apalagi ngobrol dengannya.
Kelasku kala itu tak pernah satu dengannya, karenanya aku sulit mengenal tentangnya. Mungkin karena itu pikiranku tentangnya sangatlah beda dengan sifatnya yang sebenarnya. Buatku jadi satu kesempatan ketika aku melihatnya tersenyum meski bukan untukku. Tak lama mengaguminya tahun itu harus memisahkan pandanganku darinya begitupun dengan teman-teman yang lainnya.
Setelahnya seragamku berganti menjadi Putih, abu-abu yang menjadikannya  terlihat sedikit menari. Masih dengan rok selutut dan kemeja yang pas ditubuhku. Semua terlihat berbeda tak seperti tahun sebelumnya. Tak pernah terlogiskan olehku kalau tahun itu mempertemukan kita lagi. Secara fisik tak ada yang berubah darinya selain warna seragam yang dikenakannya sama denganku. Wajahnya masih lucu bahkan lebih. Auranya seperti terlihat jelas. Seragam yang dikenakannya nyaris sempurna yang begitu tertata rapi. Bagaimana aku tak tahu soal itu. Setiap pagi yang hampir tujuh jam aku bertemu dengannya dan itu terjadi selama enam hari dalam seminggu.
“oh ALLAH he is back, this is real or am i dreamin’..?!” ucapku dalam hati saat dia duduk dibangku yang tak jauh dariku.
Aku masih menaruh kekaguman padanya meski dalam hati selalu memustahilkan semua tentang itu tapi tidak dengan hari-hari yang selalu menghamburkan senyumnya padaku. Kelaspun memperkenalkan kami. Sungguh masih diluar logikaku. Kali pertama aku mencoba mencuri wajahnya lewat pandanganku. Aku masih merasa tak yakin ketika ia tersenyum padaku. Sampai disuatu waktu diluar jam pelajaran
                “hey, boleh ikutan engga..??” tanyanya senyum berdiri disampingku
                Aku terdiam sesaat. Kupalingkan wajahku kearah Laraz yang kini jadi sahabatku bertanda isyarat buatnya, tapi sayang Laraz tak mengerti maksudku. Tanpa basa-basi Laza duduk disampingku yang membuatku tak bisa berbicara banyak.
                Dan semua berwal dari siang itu. Aku mulai saling mengenal. Kekagumanku padanya terus berlanjut. Laza seakan menyambut baik soal itu. Namun dipikiranku kalau sikapnya hanya untuk menghibur diri karena tak bersama sahabatnya. Ia mencoba membagi senyumnya setiap aku bertatap muka dengannya. Seperti tak ada rekayasa darinya. Semua berjalan senatural itu.
                Hari ke hari membuatku semakin akrab dengannya yang membuatku salalu tersenyum untuknya tapi membuatku juga sulit percaya.
                “engga mungkin Laza seperti itu..!?” bisikku dalam hati
                Ingin sekali aku berbagi soal ini ke Laraz. Tapi melihat wajah Laraz membuatku tak yakin karena semua pasti akan sampai ketelinga yang lain.
                “raz, aku keluar dulu yach..!!”
                “kemana..??” tanyanya yang lagi asyik dengan teman yang lain.
                “Cuma depen kelas aja koq..!!” jawabku lalu meninggalkannya
                Tak tahu kenapa aku tiba-tiba meninggalkan Laraz yang tak biasanya. Tapi mungkin ini jalan yang telah membawaku dekat dengan Laza. Tepat depan kelas aku melihatnya duduk sendiri. Aku mencoba mendekatinya.
                “koq disini, yang lain mana..??”
                “ke kantin..!!”
                Itu kali pertama aku ngobrol berdua dengannya. Obrolan yang biasa saja. Kucoba tahan perasaanku biar tak terbaca dan kaku dihadapannya. Semua berjalan sempurna seakan aku merencanakan sebelumnya.
                Laza membuat  pikiranku semakin sulit kumengerti. Sosoknya membuatku bertanya-tanya tapi sesekali memberi isyarat padaku kalau dia ingin mengenaliku lebih dekat.
                “oh ya, aku masuk kelas dulu..!!” pamitku tanpa senyum
                “nanti aja..!!” pintanya
                Kutinggalkannya tanpa senyum sambil sejenak memejamkan mata. Kutarik nafasku pelan. Laza tak banyak bicara padaku tapi senyumnya terus terkirim buatku.
                Malam-malamku masih seperti dulu. Belajar, belajar dan belajar meski harus berembuk dengan buku-buku pelajaran. Otakku tak terbilang cerdas tapi aku masih bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah tanpa banyak bantuan dari teman.
                Pagi itu sebelum kelas dimulai
                “hey Treez..!!” tegur Laza sepagi itu sambil menyandarkan punggungnya dipintu kelas.
                “hey..!!” jawabku singkat lalu berlalu darinya.
                Mulai saat itu Laza mencoba menggangguku dengan senyumnya. Tak hanya itu dia mencoba mendekatiku. Benar aku tak percaya, sesuatu itu tak mungkin terjadi. Sosoknya yang begitu menarik menginginkan dekat denganku. Aku yang begitu biasa saja tak memiliki wajah rupawan. Sesekali aku menjauhinya takut kalau itu hanya gurauan atau mungkin lelucon buatku.
                Hari ke hari aku mencoba menengkan pikiranku dan tak terus menghindar darinya. Kuikuti inginnya sekedar mencari tahu niatnya. Sejak saat itu banyak waktu kuhabiskan dengannya meski sebatas berbincang tentang apa yang terjadi.
                Laza baik. Tak seperti apa yang tebayang olehku selama ini. Sikapnya selama ini tanpa rekayasa. Seperti cerita yang seadanya. Tak bisa lagi aku merapikan tingkahku setelah kejadian itu karena terus terbuyarkan olehnya. Usiaku yang masih polos saat itu menjadikan hari-hari menjadi peruntungan buatku.
                “hey Treez, homeworkmu udah..??” Tanya Laraz
                “iyya, ni..!!” kusodorkan buku tulis yang berwarna hijau pada Laraz
                “thanx..!!” jawabnya lalu menyalin semua tugas-tugasku
                Kini aku berada dibulan ke 5. Sikapku masih terlihat sedikit kaku tentang Laza tapi aku tak sedikitpun berbagi semua itu ke Laraz. Laraz tak pernah membahas soal itu meski pernah sekali aku melihat matanya disuguhi sedikit tanda tanya besar ketika melihat Laza menarik tanganku. Entah apa yang harus kulakukan hari itu.
                Waktu ke waktu masih mebuatku ceria tapi aku tak bisa hanyut tentang itu, dikepalaku masih ada segepok pertanyaan. Pertanyaan yang tak bisa kutujukan pada siapa.
                “treez, koq belum keluar..?? Tanya Laraz
                “bentar lagi..!!”
                “ya udah aku duluan, aku tunggu diluar..!!”
                “iyya..!!”
                Pagi itu aku ada kelas olahraga. Tapi sebelumnya semua murid diharapkan untuk kerja bakti, bersih-bersih sekitar sekolah. Kucoba cari waktu agar bisa ngobrol dengan Laza dengan membiarkan Laraz keluar lebih dulu. Kulihat Laza berdiri di koridor depan kelas sepertinya waktu menginginkan itu. Kupandangi wajahnya yang saat itu mengenakan pakaian olahraga. Wajahnya masih tetap sama seperti awal melihatnya.
                Aku menjadi kaku dibuatnya untuk memulai. Entah kenapa aku membiarkannya. Tak ada pilihan selain meninggalkannya. Langkah kakiku sedikit terantuk, ternyata tali sepatuku terlepas dari ikatan pitanya. Kubungkukkan badanku, mataku hanya tertuju pada jari-jariku yang lihai dengan ikatan simpulku.
                “sepatunya kenapa..??” Tanya Laza yang tiba-tiba muncul didepanku
                “ini. Tali sepatunya lepas..!!” jawabku lalu berdiri
                Dengan santai Laza merangkul pundakku dengan senyum yang ia perlihatkan. Detik itu juga aku kaget. Kulepas tangannya dari pundakku lalu memandang wajahnya tanpa senyum. Entah dari mana datangnya si Jogi menampakkan wajahnya yang selalu kuhindari karena kenakalannya. Menertawakanku dengan nada sedikit membuatku tak nyaman.
                “gimana Za, puas..!?” celah Jogi dengan tawa yang menyebalkan.
                Laza tersenyum tanpa kata. Seperti ada rencana yang diketahui oleh Jogi si pengganggu yang selalu kuhindari setiap bertemu.
                Tiba dipekarangan sekolah tempat dimana kerja bakti dimulai. Aku berbaur dengan teman-teman yang lain begitupun dengan Laraz. Saat menikmati tugas itu tiba-tiba tanganku tertusuk duri.
                “aawww, spontan aku menjerit kecil..!!”
                “tangannya kenapa Treez..??” Tanya Laza lembut
                “engga apa-apa..!!”
                Laza meraih tanganku. Matanya tertuju serius pada jari telunjukku yang sedikit berdarah.
                Dasar Jogi si pengganggu yang tiba-tiba muncul dengan sifat buruknya.
                “yaelah Za, kamu ngapain ma Treezna..!?” tanyanya lalu melepaskan tangan Laza
                Tak bisa aku berucap, mengelak Jogipun tak mampu. Suasana hatiku benar-benar kesal. Kesal bukan karena Jogi tapi sikap Laza yang tak tegas. Kekesalan itu membuatku menjauhi Laza tanpa sikap
                Setelah kejadian itu kubiarkan senyum Laza tak terbalas olehku. Kubiarkan sikapnya tanpa teguran dariku. Dan kubiarkan itu berlalu hampir 2 pekan. Tapi tugas sekolah menyatukan kita lagi.ekstra kurikuler mengharuskan aku menegurnya. kali pertama aku mengajaknya kerumah. Mengerjakan tugas sekolah dengan teman yang lainnya. Tak masalah buatku. Dengan itu komunikasi berlanjut lagi dengannya.
                Hampir setahun aku mengenalnya. Saat itu juga dia mencoba berbagi tentang kehidupannya. Setiap dia bercerita aku selalu menjadi pendengar yang baik dan setia. Tak peduli lagi seperti apa sikap Jogi yang perlahan menghilang dengan sendirinya. Kubiarkan hari-hariku penuh dengan senyumannya. Kunikmati setiap sikap yang dia tujukan padaku. Aku bahagia melewati itu semua. Bahagia dengan sikapnya yang mengistimewakanku.
                Sampai suatu ketika sikapnya sedikit berubah. Perlahan namun pasti. Aku tak tahu ada apa dengan Laza. Kucoba reka ulang ingatanku tentangnya tapi tak ada masalah. Kucoba mencuri perhatiannya tapi senyumnya tak semanis dulu. Kudekati dia bermaksud mencari sesuatu yang terjadi. Dia begitu dingin dan tertutup soal itu. Dan disuatu hari yang mengagetkanku. Dia bersikap sedikit tak ramah terhadapku. Aku berusaha memberikan perhatian yang lebih tapi hasilnya nihil. Sangat yakin buatku kalau masalah serius telah dihadapinya. Tak banyak yang bisa kulakukan. Sikap dinginnya memintaku untuk menciptakan jarak darinya
                Tahun ke dua buatku tak nyaman. Laza menghilang tanpa alasan yang jelas. kata teman dia melanjutkan kelasnya di sekolah lain. Kepalaku tak bisa menjangkau tentang dan sikapnya. Ingin kutujukan ada apa dengannya tapi tak tahu pada siapa. Begitupun dengan tempat tinggalnya.
                Saat itu juga aku lost contact dengannya. Kucoba jalani hari-hariku tanpa Laza. Tanpa semua tentangnya. Sedikitnya aku berusaha mencari cara agar ingatanku tak selalu tertuju padanya. Memang tak mudah tapi itu menjadi keharusan buatku.
                Tahun ketiga membuatku tegar. Sampai akhirnya aku meninggalkan seragamku tanpanya. Tak ada berita darinya yang kudengar. Dalam harap aku bisa bertemu dengannya sebelum aku melanjutkan studyku diluar kota.
                Semua tak seperti harapku  waktu berlalu tanpa pernyataan yang jelas. Tiga tahun lebih setelah aku lulus dari sekolah. Waktu itu juga aku telah menyelesaikan studyku. Dan menjadi tahun ke 5 aku tak melihatnya. Banyak kenangan darinya sebelum mengenalnya sampai dia pergi begitu saja.
                Namun entah ada apa. Tiba-tiba aku bertemu denganya di sebuah minimarket. Tanpa sengaja melihatnya. Kucoba pandangi wajahnya dari kejauhan. Sepertinya aku tak mimpi malam itu. Saat melihatnya dia juga mengarahkan pandangannya padaku. Seperti yakin kalau itu dia tapi tak sedikitpun senyum darinya. Mataku seperti tak ingin lepas darinya. Ketika dia berjalan kearahku.
                “Laza,,,??” tanyaku pelan
                Wajah dan fisiknya masih seperti dulu. Senyum singkatnya ia coba tawarkan padaku. Kucoba jabat tangannya dengan hangat,
                “lama tak bertemu, kamu apa kabar..!?”
                “Alhamdulillah baik..!!” jawabnya berdiri tepat dihadapanku
                “tadi aku lihat itu kamu, tapi aku pikir aku salah..!?” ucapku tak tentu
                “iyya, aku juga lihat, tapi kamu engga senyum jadi aku mikir kalau itu cuma mirip kamu. Kamu bagaimana kabarnya. Sekarang tambah cantik..??” tanyanya senyum
                “aku Alhamdulillah baik..!!” dalam hati aku berucap ini tahun ke enam kita terpisah dan akhirnya bertemu juga. Sangat jelas di ingatanku karena aku begitu jeli tentang itu.
                Sejenak aku mengobrol dengannya. Sepertinya aku bahagia dan aku melihat dia menikmatinya.
                “oh iyya, sorry aku harus balik..!!
                “nomor ponselmu berapa..??”
                Kuberikan nomorku padanya. Berharap banyak dia menghubungiku.
                “ ya udah aku duluan..!!” pamitku
                Hampir seminggu aku menunggu kabarnya. Dihari-hari itu juga aku mengira dia sudah lupa terhadapku. Mencoba menguhubunginya lebih dulu melalaui pesan singkat adalah hal yang wajar kulakukan. Dan semua tak seperti yang ada dibenakku. Laza lebih dulu menunggu aku menghubunginya dan bepikir kalau aku tak lagi peduli tentangnya.
                Pertemuan menjadi janji setelahnya. Hari telah ditentukan olehnya untuk menemuiku. Sore itu Laza datang kerumah. Wajahnya nampak segar. Senyumnya seperti yang dulu yang selalu dia tawarkan. Kali ini waktunya diluangkan banyak buatku. Entah mengunjungiku atau hanya melalui ponselnya.
                ia kembali. Laza yang dulu kembali. Laza yang dulu pergi tanpa sepengetahuanku kini kembali membawa kebahagiaan yang dulu dia curi dariku. Banyak cerita tentangnya. Tentang pekerjaan serta studynya yang masih berjalan. Sungguh bisa kutebak perasaanya kini. Yang dulu tertunda.
                Kubiarkan Laza terus mendatangiku. Membawakanku harapan dan senyum terindah setiap bertemu. Kucoba bercerita tentang kisah beberapa tahun silam. Ia tersenyum seperti biasa. Tapi senyumnya berubah jadi diam yang tak jelas ketika aku menanyakan suatu hal yang menurutnya sangat pribadi. Aku cukup tersentak mendengarnya. Hal yang diluar nalarku, diluar logikaku. Laza menghentikan niatku ketika bercerita dengan alazan kenapa dia menghilang. Seperti tanpa semangat aku terpaku di satu arah yang tak jelas.
                Laza mencoba mendekatiku dengan banyak penjelasan. Mencoba memahamiku karena sikapnya. Mencoba mengerti aku dengan berharap banyak tentang masa depanku. Hal yang belum bisa kujawab saat itu juga.
                Sedikit menjauhi setiap ajakannya. Menolak bertemu meski hanya ingin mengajakku jalan. Hari-hari memintaku berpikir soal itu. Sesuatu yang bersifat serius untuk aku dan dia kedepannya. Tak ingin melukainya tapi tak ada pilihan lain. Lambat laun dia mengerti sikapku. Perlahan dia menjauh, menjauh dan menjauh lalu menghilang seperti sebelumnya.
                “sorry Laza. Aku tak bisa dengan keadaan seperti ini. Jika saja aku hidup sendiri pasti sudah kuterima dengan sepenuh hati. Tapi aku tak bisa egois karena mereka masih disekitarku. Don’t worry bout me. I’ll b fine with or without you.Aku yakin kita pasti bahagia tanpa harus bersama. God bye Laza. U’re still d bezt…!!” kata itu yang hampir setiap saat kuucap ketika mengingat tentangnya. Tentang Laza dengan kesempurnaanya.
                                                                                                                                                                lonely room | july |2012 |


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar